Tapanuli Selatan (ANTARA) - Ratusan ibu korban banjir bandang di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, meminta pemerintah tidak mencabut izin operasional PT Agincourt Resources selaku pengelola Tambang Emas Martabe.
Permintaan tersebut disampaikan dalam kegiatan Safari Ramadan 2026 sesi trauma healing bertema “Berkah Ramadan Bangkit Bersama Tambang Emas Martabe” yang digelar di wilayah terdampak, kemarin.
Secara bergantian, para ibu menyampaikan harapan agar aktivitas pertambangan tetap berlanjut karena dinilai menjadi sumber penghidupan keluarga mereka.
Salah seorang warga Desa Garoga, Boru Situmeang, mengatakan keluarganya akan terdampak apabila operasional perusahaan dihentikan. Ia menyebut suaminya bekerja di Tambang Emas Martabe dan menjadi tulang punggung keluarga.
“Kami sudah habis segala-galanya, habis harta, rumah. Jangan lagi habis mata pencarian kami, Pak,” ujarnya.
Menurut dia, sejak aktivitas perusahaan terhenti, kondisi ekonomi keluarga semakin sulit. Kebutuhan sehari-hari hingga biaya pendidikan anak menjadi kekhawatiran utama.
“Bagaimana lagi kami bisa sekolahkan anak, bayar uang kuliah, kalau kondisi perusahaan seperti saat ini,” katanya.
Para ibu juga menyampaikan harapan kepada Presiden Prabowo Subianto agar mempertimbangkan kondisi masyarakat Batang Toru sebelum mengambil keputusan terkait kelanjutan operasional tambang.
Mereka berharap kebersamaan antara masyarakat dan Tambang Emas Martabe dapat terus terjalin serta kondisi ekonomi warga kembali stabil.
