Tapanuli Selatan (ANTARA) - Lembaga Ovata Indonesia mendorong PT Agincourt Resources (PTAR) untuk mewujudkan pembangunan gedung pusat penelitian, edukasi, dan literasi penyu di Pantai Muara Upu, Kecamatan Muara Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara.
"Itu impian kita (Ovata Indonesia) setelah komitmen PTAR dalam mendukung fasilitas konservasi penyu yang telah diresmikan di kawasan tersebut beberapa waktu lalu," kata Ketua Lembaga Ovata Indonesia, Erwinsyah Siregar, Kamis.
Menurut dia, langkah PTAR, Pengelola Tambang Emas Martabe, Batang Toru yang sudah membangun sarana penangkaran penyu di Muara Upu itu merupakan fondasi awal yang sangat baik.
" Hanya saja, upaya konservasi perlu ditingkatkan ke tahap yang lebih strategis dan berkelanjutan. Kami berharap kolaborasi ini tidak berhenti pada penangkaran saja. Ke depan, perlu ada gedung pusat penelitian, edukasi, dan literasi biota laut, khususnya penyu,” ujar Erwinsyah.
Menurut dia, pentingnys Pusat Riset Penyu Samudera Hindia mengingat Pantai Muara Upu diketahui menjadi lokasi pendaratan lima jenis penyu, di antaranya Penyu Belimbing dan Penyu Lekang, yang seluruhnya berstatus dilindungi dan masuk dalam daftar merah IUCN.
Ia menegaskan keberadaan pusat penelitian akan memperkuat kajian ilmiah mengenai pola migrasi, musim bertelur, tingkat keberhasilan penetasan, hingga ancaman ekologis yang dihadapi penyu di pesisir barat Sumatera.
“Muara Upu memiliki karakteristik pantai yang sangat ideal sebagai habitat peneluran. Ini potensi besar untuk riset jangka panjang yang bisa melibatkan akademisi, mahasiswa, dan peneliti,” katanya.
Selain riset, pusat tersebut juga diharapkan menjadi ruang edukasi bagi pelajar dan masyarakat tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir. Program literasi lingkungan dinilai penting untuk membangun kesadaran kolektif bahwa penyu merupakan indikator kesehatan laut.
"Saya optimis pembangunan gedung pusat penelitian dan edukasi akan berdampak luas, tidak hanya pada aspek konservasi, tetapi juga pariwisata berbasis lingkungan. Muara Upu berpotensi menjadi destinasi wisata edukasi yang mampu menarik kunjungan dari dalam dan luar negeri," ujarnya.
Di katakan, dengan meningkatnya kunjungan, sektor ekonomi masyarakat seperti UMKM, jasa pemandu wisata, penginapan, hingga kuliner lokal diyakini ikut tumbuh.
“Konservasi dan ekonomi bisa berjalan beriringan. Jika pusat riset dan edukasi ini terwujud, Muara Upu bisa menjadi ikon wisata konservasi di Tapanuli Selatan,” tambah Erwinsyah.
Ovata Indonesia berharap dukungan PTAR bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya dapat mempercepat realisasi pembangunan pusat penelitian penyu tersebut, sehingga Muara Upu berkembang sebagai kawasan konservasi yang kuat secara ilmiah, edukatif, dan berkelanjutan secara ekonomi.
Pewarta: Kodir PohanEditor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026