Tapanuli Selatan (ANTARA) - Dampak terhentinya operasional Tambang Emas Martabe pascabencana alam kian meluas. Tidak hanya memukul karyawan tambang, kondisi ini kini mengancam keberlangsungan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah Batang Toru dan sekitarnya. Bahkan, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai menghantui para pekerja sektor informal.
Manajer Dwikora Cafe dan Resto, Zers, mengungkapkan bahwa usahanya mengalami penurunan omzet signifikan sejak tambang yang dikelola PT Agincourt Resources (PT AR) berhenti beroperasi. Padahal, sejak awal berdiri lebih dari setengah tahun lalu, sebagian besar pelanggan berasal dari karyawan tambang.
“Sekitar 70 persen customer kami itu orang tambang. Dari hari pertama buka sampai sebelum tambang berhenti, mereka yang paling banyak datang,” kata Zers kepada ANTARA, Jumat.
Namun dalam satu bulan terakhir, kondisi usaha berubah drastis. Ia mencatat penurunan omzet mencapai sekitar 50 persen, khususnya pada 10 hari pertama bulan berjalan jika dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya.
“Kalau dulu dari 10 pengunjung, tujuh itu orang tambang. Sekarang mungkin tinggal dua orang saja. Itu terasa banget di omzet,” ujarnya.
Penurunan pendapatan tersebut mulai berdampak pada belasan karyawan yang bekerja di Dwikora Cafe. Zers mengaku saat ini masih berusaha mempertahankan seluruh pekerjanya, namun situasi yang berlarut-larut bisa memaksa pengusaha mengambil keputusan sulit.
“Karyawan kami belasan orang. Kalau kondisi seperti ini terus terjadi, jujur saja berat untuk penggajian. Selama masih bisa ditutupi, kami tutupi. Tapi kalau makin turun, ancaman PHK itu nyata,” ungkapnya.
Ia menilai berhentinya tambang telah menurunkan daya beli masyarakat secara umum. Banyak pelanggan yang memilih menahan pengeluaran karena ketidakpastian ekonomi dan kekhawatiran kehilangan pekerjaan.
“Sekarang orang-orang juga berpikir ulang untuk belanja. Mereka deg-degan memikirkan masa depan, takut tidak punya penghasilan lagi. Dampaknya langsung ke UMKM,” katanya.
Menurut Zers, tambang Martabe selama ini menjadi pusat perputaran ekonomi di kawasan Batang Toru.
Ketika aktivitas tersebut berhenti, efek domino langsung menghantam sektor usaha kecil, tidak hanya di Batang Toru, tetapi juga daerah sekitar seperti Padangsidimpuan dan Sibolga.
“Perputaran uang di sini paling besar ya dari tambang. Kalau itu berhenti, UMKM yang pertama kali kena,” ujarnya.
Para pelaku UMKM kini berharap pemerintah segera memberikan kepastian terkait keberlanjutan operasional tambang agar aktivitas ekonomi kembali bergerak dan gelombang PHK dapat dihindari.
“Kalau kondisi ini dibiarkan terlalu lama, bukan hanya karyawan tambang yang terdampak. UMKM bisa kolaps, dan PHK tidak bisa dihindari,” pungkas Zers.
