Tapanuli Selatan (ANTARA) - Zahra Nabila Siregar (19), mahasiswi semester dua Jurusan Pendidikan Seni Tari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), menyatakan kekhawatirannya terkait kelanjutan beasiswa yang selama ini menjadi penopang studinya.
Zahra, warga Desa Sipenggeng, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatwra Utara merupakan salah satu penerima beasiswa pendidikan yang disalurkan melalui program pemberdayaan masyarakat dari Tambang Emas Martabe yang dikelola oleh PT Agincourt Resources.
Setiap semester ia menerima lebih dari Rp13 juta lebih untuk membiayai uang kuliah tunggal (UKT) dan kebutuhan hidupnya (1 semester). “Saya tidak tahu harus bagaimana jika beasiswa itu berhenti,” ujar Zahra kepada ANTARA, Minggu.
Ayahnya Irwan Siregar (60) bekerja membuka kedai kopi kecil dengan penghasilan tidak menentu, sementara ibunya Zuhria Hasibuan (47) merupakan ibu rumah tangga. Mereka empat bersaudara, salah satu kakaknya saat ini juga berkuliah dan adiknya yang lain ada bersiap masuk perguruan tinggi.
Zahra mengatakan beasiswa tersebut menjadi penopang utama keberlanjutan studinya karena kemampuan ekonomi keluarga sangat terbatas.
Sejak penghentian operasi tambang pascabencana hidrometeorologi pada November 2025, sejumlah program pemberdayaan masyarakat termasuk beasiswa pendidikan berada dalam ketidakpastian.
"Hingga kini belum ada kepastian apakah bantuan akan tetap diberikan kepada penerima beasiswa seperti Zahra," sebutnya.
Meski demikian, Zahra tetap menjalani aktivitas perkuliahan, mengikuti perkuliahan, dan berlatih sebagai bagian dari program studinya. Ia menolak menyerah meskipun terus dihantui ketidakpastian kelanjutan beasiswanya.
“Saya ingin menyelesaikan kuliah dan membahagiakan orang tua,” ujar anak sanggar seni sejak usia 9 tahun/kelas 3 sekolah dasar tersebut
Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi dari pihak PT Agincourt Resources, Pengelola Emas Batang Toru terkait kelanjutan program beasiswa Martabe pascabencana.
Pewarta: Kodir PohanEditor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026