Medan, Sumatera Utara (ANTARA) - Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) RI Yandri Susanto memuji keseriusan Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Bobby Nasution mengawal percepatan pembangunan Nias Utara dari status sebagai kabupaten tertinggal.
"Saya mengapresiasi kehadiran langsung Gubernur Sumatera Utara yang serius mengawal Nias Utara," ucap Yandri saat pembukaan rapat koordinasi percepatan pembangunan daerah tertinggal di Gedung Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dalam keterangan tertulis diterima di Medan, Sumut, Rabu.
Dalam rapat tersebut terungkap, lanjut Mendes, dari 30 kabupaten berstatus daerah tertinggal di Indonesia, hanya satu yang berada di wilayah barat, yakni Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara.
Sedangkan dari delapan gubernur yang diundang dalam rapat strategis ini, hanya Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution hadir secara langsung dan tujuh gubernur lainnya diwakilkan.
Menurut Mendes, kehadiran Gubernur Sumut sebagai bentuk keseriusan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut mengawal percepatan pembangunan agar Nias Utara keluar dari daftar daerah tertinggal.
Provinsi Sumut memiliki empat kabupaten tertinggal yang seluruhnya di Kepulauan Nias, yakni Nias, Nias Barat, Nias Utara, dan Nias Selatan. Pada tahun ini, hanya Nias Utara yang masih menyandang status tersebut.
"Ini satu-satunya daerah tertinggal di wilayah barat Indonesia dan harus kita dorong bersama agar segera keluar dari status itu," sebut Yandri.
Sedangkan dari 30 kabupaten tertinggal di Indonesia, ujar Mendes, sekitar 90 persen anggarannya masih bergantung pada transfer pusat karena pendapatan asli daerah (PAD) sangat kecil.
"Hampir 90 persen pembiayaan daerah tertinggal bersumber dari transfer pusat. PAD-nya kecil, ruang fiskalnya terbatas. Karena itu, intervensi pusat dan provinsi menjadi sangat penting," jelasnya.
Khusus Nias Utara, ungkap Yandri, pemerintah pusat menilai kabupaten di Kepulauan Nias itu memiliki potensi besar, terutama sektor perkebunan kelapa.
Namun, tutur Mendes, potensi tersebut belum dioptimalkan karena keterbatasan infrastruktur dan akses logistik.
"Potensinya luar biasa, kelapanya besar, tetapi kalau jalannya tidak ada, logistik terhambat, tentu pertumbuhan ekonominya tidak maksimal," kata Yandri.
Sementara, Bupati Nias Utara Amizaro Waruwu mewakili seluruh bupati daerah tertinggal se-Indonesia sekaligus ditunjuk sebagai koordinator kabupaten tertinggal mengapresiasi Gubernur Sumut.
"Gubernur bagi kami adalah orang tua kami. Kami merasakan betul komitmen beliau, terutama menjaga dana transfer ke daerah Provinsi Sumut dan Kabupaten Nias Utara agar tidak dipotong," kata Amizaro.
Bupati juga menyebutkan dukungan anggaran Rp300 miliar bagi Kepulauan Nias sebagai bukti keberpihakan nyata Pemprov Sumut.
"Bahkan beliau (Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution) beberapa kali berkantor di Nias untuk memastikan pembangunan berjalan. Ini memberi semangat besar bagi kami," katanya.
Amizaro turut mengapresiasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto.
"Bagi kami di daerah tertinggal, program MBG ini, seperti emas. Dampaknya langsung dirasakan masyarakat," ucap Amizaro.
