Medan (ANTARA) - Ribuan warga, mahasiswa, dan pelajar menggelar aksi bela Palestina mewarnai hari lahir ke-95 tahun organisasi massa Islam Al Jam’iyatul Washliyah.
Rintik hujan yang turun sejak pagi hari tidak mampu meredam semangat mereka memadati Jalan Sisingamangaraja di depan Kampus Universitas Al Washliyah (UNIVA) Medan pekan ini.
Di hari istimewa menuju satu abad perjalanan Al Jam’iyatul Washliyah didirikan di Medan, Sumatera Utara, pada 30 November 1930 tersebut dengan cara yang tidak biasa, yakni aksi bela Palestina.
Tangan-tangan kecil pelajar mengibarkan bendera Merah Putih dan bendera Palestina, sementara para pemuda serta mahasiswa membagikan bendera serupa kepada pengguna jalan yang melintas.
Aksi itu kian meriah ketika jajaran rektorat UNIVA turun langsung memberi semangat, dan dari barisan massa sesekali terdengar takbir menggema.
"Ini adalah semangat jihad para syuhada yang hadir di UNIVA hari ini. Kita tunjukkan kepada dunia, Al Washliyah ada untuk Palestina," ucap Ketua Panitia Hari Lahir ke-95 Al Jam’iyatul Washliyah Sumut Hayatsyah.
Pihaknya menegaskan, bahwa aksi solidaritas ini bukan sekadar agenda organisasi massa Islam terbesar di Sumatera Utara, tetapi panggilan hati nurani.
"Ini bukan tentang kebencian. Ini tentang cinta kepada keadilan, cinta kepada kemanusiaan, cinta kepada saudara-saudara kita di Palestina,” ujarnya.
Ia menyebutkan, kondisi Palestina sebagai tragedi kemanusiaan yang seharusnya menyentuh siapa pun masih memiliki hati nurani.
“Setiap hari anak-anak kehilangan orang tua. Ibu-ibu menangis mencari tempat aman. Krisis pangan dan kelaparan meluas. Dunia banyak yang memilih diam, tetapi kita tidak,” katanya.
Dalam orasinya, Hayatsyah juga menyampaikan rasa bangga karena Indonesia melalui Presiden RI Prabowo Subianto secara konsisten menyerukan dukungan bagi kemerdekaan Palestina.
"Kita bangga punya pemimpin yang tetap komit terhadap perjuangan rakyat Palestina," jelasnya.
Hayatsyah berharap aksi ini menjadi doa bersama, ikhtiar kecil agar 'pintu langit terbuka' bagi rakyat Palestina yang terus menjadi korban agresi militer supaya merdeka.
