Medan (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) mengungkapkan solusi mengatasi tingginya harga cabai merah di senjumlah daerah belakangan ini dengan menyiapkan stok penyangga.
"Fokus kami adalah pada hasil produksi. Salah satu solusinya menyediakan buffer stock hasil panen agar dapat digunakan operasi pasar," ucap Kepala Bidang Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Sumut Lambok Turnip dalam temu pers di Kantor Gubernur Sumut, Kamis (18/9).
Adapun penyebab melonjaknya harga cabai merah di pasaran, lanjut dia, karena curah hujan yang cukup tinggi di sejumlah daerah merupakan sentra produksi cabai merah.
Namun ketersediaan stok cabai merah di berbagai daerah se-Sumatera Utara harus terus dapat dijaga supaya pasokan di pasaran tetap stabil.
"Di daerah dataran tinggi, seperti Karo, Simalungun, Dairi, Humbang Hasundutan, dan Tapanuli Utara mengalami musim kemarau hampir empat bulan. Hujan baru turun belakangan ini," ungkap Lambok.
Selain itu, menurut dia, panen di sejumlah daerah sentra produksi cabai, seperti Desa Lubuk Cuik, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, saat ini juga mulai menipis.
Data Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Sumut menyebut, produksi cabai merah hingga Agustus 2025 sebanyak 22.100 ton, dan kebutuhan sekitar 10.247 ton.
"Di Lubuk Cuik panen cabai sudah hampir selesai. Ini menyebabkan pasokan ke pasar menurun, meski berdasarkan data kami stok masih mencukupi. Cuma saja harga di pasaran saat ini mencapai Rp70 ribu per kilogram," tutur Lambok.
Pihaknya juga membantah, bahwa cabai merah produksi Sumut dikirim ke luar provinsi, tapi yang terjadi pembelian langsung pengusaha luar provinsi ke Sumatera Utara.
"Kita tidak secara resmi mengirimkan cabai ke luar daerah. Namun informasi dari petani banyak tauke-tauke dari Pekanbaru, dan Sumatera Barat datang langsung ke Lubuk Cuik mengambil hasil panen di sana," papar dia.
Pihaknya juga berharap upaya menjaga stabilitas pasokan cabai merah dengan melakukan operasi pasar menjadi solusi sementara hingga menunggu kondisi cuaca kembali normal.
"Tugas kami dari pertanian di produksi cabai merah itu," kata Lambok.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Effendy Pohan Setdaprov Sumut Effendy Pohan menyebut, pihaknya menjaga kestabilan harga komoditi pangan dengan program Jaminan Stabilisasi Harga Komoditi Pangan (JASKOP).
Prinsipnya, lanjut dia, menyeimbangkan harga bagi para petani di daerah agar tidak terlalu murah, dan harga suatu komoditi bagi masyarakat tidak terlalu mahal.
"Tujuan (JASKOP, red) ini melindungi petani dan masyarakat. Petani tidak rugi, konsumen tidak mahal harganya, sehingga inflasi tetap stabil," kata Effendy.
