Medan (ANTARA) - Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Utara menyatakan kondisi perbankan di wilayah itu masih kuat dengan modal dan likuiditas terjaga dengan baik.
"Sektor Perbankan di Sumut masih menunjukkan tingkat ketahanan yang baik, tercermin dari kondisi permodalan dan likuiditas pada Mei 2025 ," ujar Kepala Kantor OJK Sumatera Utara Khoirul Muttaqien di Medan, Rabu.
Khoirul melanjutkan salah satu indikator kestabilan perbankan di Sumut ditunjukkan dengan nilai dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp325,59 triliun atau tumbuh tumbuh 2,59 persen secara tahunan.
Menurut dia, pertumbuhan itu dipengaruhi peningkatan tabungan sebesar 2,11 persen (year on year), dan deposito sebesar 3,46 persen (yoy).
Secara struktur, komposisi DPK masih didominasi oleh tabungan dengan kontribusi sebesar 43,51 persen terhadap total DPK, disusul oleh deposito sebesar 39,6 persen dan giro sebesar 16,9 persen.
Sementara itu terkait likuiditas, OJK menyebut perbankan di Sumut memiliki situasi yang terkendali, berdasarkan rasio alat likuid terhadap dana non-core deposit (AL/NCD) dan alat likuid terhadap dana pihak ketiga atau AL/DPK di angka 116,55 persen dan 23,13 persen .
"Kedua indikator itu berada jauh di atas ambang batas minimal yang dipersyaratkan yang masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen," kata Khoirul.
Oleh karena itu, kondisi tersebut sekaligus mencerminkan kesiapan yang baik sektor Perbankan di Sumatera Utara dengan memenuhi kebutuhan transaksi masyarakat dalam jangka pendek.
Begitu juga kualitas kredit perbankan di Sumut pada Mei 2025, Khoirul mengatakan masih terjaga dalam batas yang rendah, tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan/NPL net sebesar 0,87 persen. Meskipun sedikit meningkat dibanding posisi Desember 2024 yang sebesar 0,73 persen.
Sementara itu, Rasio NPL gross tercatat sebesar 1,91 persen, membaik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 2,05 persen.
Selain itu, berdasarkan indikator risiko kredit lain yaitu loan at risk (LaR) juga menunjukkan penurunan menjadi 6,25 persen dari sebelumnya 7,39 persen pada Mei 2024.
