Medan (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) terus berkolaborasi dengan perbankan dalam menggenjot penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM).
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Provinsi Sumut Naslindo Sirait dalam temu pers Kantor Gubernur Sumut, Rabu, mengatakan, hingga 31 Oktober 2025, penyaluran KUR di Sumut mencapai Rp13,46 triliun dengan total 327.678 debitur
Dari jumlah itu, sektor pertanian, perburuan dan kehutanan merupakan penyerap KUR terbesar di wilayah Sumut dengan realisasi senilai Rp6,21 triliun.
Disusul sektor perdagangan besar dan eceran tercatat Rp5,17 triliun, lalu jasa kemasyarakatan, sosial budaya, dan perorangan sebesar 981,93 miliar, serta sektor lainnya.
"Capaian penyaluran kredit usaha rakyat ini mendekati target Provinsi Sumut tahun 2025 sebesar Rp15 triliun," katanya.
Menurut dia, penyaluran KUR di wilayah Sumut direalisasikan guna meningkatkan inklusi keuangan, menopang stabilitas, dan pertumbuhan ekonomi di daerah.
Data Dinas Koperasi, dan UKM Provinsi Sumut pada 2024, di daerah itu ada sebanyak 870 ribu lebih pelaku UMKM, sekitar 3 persen memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), 7,7 persen UMKM memiliki akses pembiayaan, 19 persen UMKM telah mengadopsi teknologi, dan 4 persen sudah mengakses pasar digital.
"Pemprov Sumut tidak hanya mendorong akses permodalan, tapi juga pembenahan menyeluruh mulai legalitas usaha, peningkatan produktivitas, sarana dan prasarana hingga manajerial," tutur dia.
Dia mencontohkan program business matching (temu bisnis) yang mempertemukan para pelaku usaha guna mempercepat penilaian kelayakan UMKM.
"Kita ada program business matching, yakni membuat pertemuan pelaku usaha dengan perbankan, sehingga mereka bisa melihat UMKM yang potensial," ujar Naslindo.
Selain itu, Pemprov Sumut juga membantu penerbitan NIB, izin usaha sampai menata manajemen pembukuan agar lebih tertib oleh pelaku UMKM.
Pihaknya juga berharap penyaluran KUR di wilayah Sumut dapat semakin mendorong hilirisasi produk lokal mengingat sektor pertanian tulang punggung ekonomi.
"Misalnya hasil pertanian jagung diolah menjadi jagung pipil hingga pakan. Beras diolah menjadi tepung beras, sehingga industri pengolahan juga ikut meningkat,” katanya.
