Tapanuli Tengah (ANTARA) - Terik matahari siang hari menjadi ujian berat bagi para pengungsi bencana alam di Kecamatan Badiri yang masih bertahan di tenda darurat dengan kondisi serba terbatas.
Simon Angenanu Laoli (32), pengungsi asal Dusun III Desa Kebun Pisang, Badiri mengaku suhu panas di dalam tenda terasa menyengat saat matahari mulai naik.
“Kalau siang panas kali. Di dalam tenda pengap, apalagi untuk anak-anak,” ujar Simon, ayah tiga anak, dengan nada lelah namun pasrah ditemui ANTARA, Selasa (13/1).
Meski demikian, Simon mengaku memahami kondisi darurat yang dihadapi bersama warga lainnya dan memilih bertahan demi keselamatan keluarganya.
Ia juga menyatakan sepakat apabila wilayah tempat tinggalnya ditetapkan sebagai zona merah bencana dan mendukung rencana relokasi ke rumah sementara.
“Kalau memang zona merah, kami sepakat. Rumah sementara juga setuju, yang penting aman,” katanya.
Di tengah keterbatasan, Simon mengapresiasi pelayanan pemerintah dan petugas di lapangan yang dinilainya berjalan baik.
“Pelayanan bagus. Kami tidak pernah kekurangan makan atau kebutuhan lain. Lampu listrik, kebutuhan air bersih lengkap,” ujarnya.
Camat Badiri Ahmad Saufi Pasaribu mengatakan pemerintah terus berupaya memastikan kebutuhan dasar sebanyak 210 kepala keluarga atau 787 jiwa korban pengungsi terpenuhi secara layak dan manusiawi.
“Kami berkomitmen menjaga pelayanan tetap optimal sambil menyiapkan langkah lanjutan, termasuk hunian sementara bagi warga terdampak,” kata Ahmad Saufi Pasaribu.
Pewarta: Kodir PohanEditor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026