Medan (ANTARA) - Bobby Nasution punya pengalaman yang mumpuni memimpin daerah dalam kondisi bencana. Gubernur termuda se-Indonesia tersebut mencatat sejumlah prestasi memimpin Provinsi Sumatera Utara.
Hari ini genap setahun Bobby dan Surya memimpin Sumatera Utara sejak dilantik oleh Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Negara Jakarta, Kamis, 20 Februari 2025.
Seperti pertama memimpin Kota Medan, Bobby juga banyak mengurusi bencana saat memimpin Sumatera Utara.
Saat menjadi Wali Kota Medan, Bobby mampu memimpin daerah tersebut di tengah wabah Covid-19 yang melanda.
Visinya menjadikan UMKM naik kelas, benar-benar dirasakan oleh pelaku usaha kecil dan menengah di Kota Medan.
Ketika menjadi Gubernur Sumatera Utara, Bobby dihadapkan pada bencana banjir dan longsor akhir November 2025.
Berbagai sumber mencatat, bencana hidrometeorologi yang melanda tersebut menjadi yang terparah dalam lima tahun terakhir.
Namun sebagai pemimpin, Bobby langsung hadir ke lokasi bencana. Tidak kalah penting, langkah yang ditempuh Bobby pascabencana untuk pemulihan bagi warga penyintas.
1. Tutup perusak hutan
Bencana yang menimpa Sumut akhir November 2025, terindikasi disebabkan perusahaan yang merusak hutan dan lingkungan.
Bobby pun mencium indikasi itu dan tak berapa lama, ia merekomendasikan penutupan sejumlah perusahaan, salah satunya PT Toba Pulp Lestari Tbk.
Alhasil, pada 11 Desember 2025 pemerintah pusat resmi menutup operasional perusahaan bubur kertas tersebut.
2. Pembangunan huntara dan huntap
Tidak sampai di situ, gerak cepat Bobby pascabencana juga menyasar ke hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) bagi korban yang kehilangan tempat tinggal.
Bobby telah memulai pembangunan huntap sebanyak 1.000 unit bagi korban banjir dan longsor di wilayah terdampak bencana.
Pada 5 Februari 2026, huntara sudah bisa ditempati di Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara dipusatkan di lokasi huntara Desa Simarpinggan, Kecamatan Angkola Selatan, Tapanuli Selatan.
Huntara ini telah ditempati masyarakat terdampak bencana sambil menunggu pembangunan hunian tetap yang dibangun pemerintah selesai.
3. Gelontorkan anggaran pascabencana
Terobosan yang signifikan lainnya, yakni Bobby menggelontorkan anggaran sebesar Rp430 miliar untuk percepatan pemulihan pascabencana.
Anggaran tersebut dialokasikan ke lima bidang prioritas untuk mempercepat proses pemulihan di wilayah terdampak.
Alokasi terbesar di bidang infrastruktur meliputi perbaikan jalan, jembatan, tanggul, normalisasi sungai, sumber daya air, dan rehabilitasi rumah dengan total sekitar Rp275 miliar.
Selanjutnya di bidang komunikasi dan informatika sebesar Rp1,68 miliar, pendidikan Rp36,8 miliar, kesehatan Rp6,9 miliar, dan bantuan keuangan pemerintah daerah sekitar Rp110 miliar.
4. Pendidikan gratis korban bencana
Salah satu hal penting bagi korban bencana adalah pendidikan bagi masa depan anak-anak mereka.
Bobby pun mengeluarkan kebijakan gratis dengan menganggarkan dana Rp22 miliar untuk membayar uang sekolah bagi siswa SMA/SMK/SLB di wilayah terdampak bencana tahun ajaran 2026/2027.
5. Berobat gratis
Meski bencana melanda wilayah Sumut, Bobby tidak ingkar janji kampanyenya. Belum setahun menjabat, Bobby sudah merampungkan 100 persen UHC alias Program Berobat Gratis (Probis) Sumut Berkah bagi warga Sumatera Utara.
Program ini memungkinkan masyarakat Sumut mendapatkan layanan kesehatan hanya dengan menunjukkan KTP.
Tidak ada alasan bagi fasilitas kesehatan di wilayah Sumut, termasuk rumah sakit menolak pasien dengan alasan administrasi.
Pelayanan didahulukan, administrasi diurus belakangan.
Atas hal itu, Pemerintah Provinsi Sumut meraih penghargaan UHC Award kategori Pratama dari BPJS Kesehatan diserahkan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar di Jakarta, Selasa (27/1).
6. Pembangunan Kepulauan Nias
Yang tak kalah penting dari kepemimpinan Bobby adalah membangun Kepulauan Nias yang maju dan terintegrasi.
Bahkan Bobby telah menyusun kebijakan tematik pembangunan menuju Nias Maju 2029.
Dalam kebijakan ini, tiga wilayah ditetapkan sebagai spesialisasi pembangunan, yakni hub ekonomi dan logistik di Gunungsitoli, destinasi wisata dan budaya di Nias Selatan, serta wilayah lainnya sebagai zona produksi.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Bobby menyiapkan anggaran sekitar Rp305 miliar setelah tahun sebelumnya mengucurkan Rp250 miliar.
Anggaran itu dialokasikan untuk peningkatan layanan kesehatan, pendidikan, konektivitas wilayah, penguatan ketahanan lokal dan keunggulan global.
