Medan (ANTARA) - Universitas Sumatera Utara (USU) merealisasikan program “The On Loop Ranger: Penguatan Pelayanan Multidisipliner Peri-Hospital dalam Penanggulangan Bencana di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga” sebagai respons cepat dan terpadu terhadap dampak bencana yang melanda daerah itu.
Program ini dilaksanakan di Kecamatan Tukka dan sekitarnya dengan mengusung empat pilar utama, yakni logistik, layanan kesehatan dan gizi, pendampingan psikososial, serta dukungan administrasi publik melalui manajemen data kebencanaan.
Program The On Loop Ranger merupakan implementasi dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana Tahun 2025 yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan.
Ketua Tim Pelaksana, Dr. rer. medic., dr. M. Ichwan, M.Sc., SpKKLP, menyampaikan bahwa pendekatan empat pilar ini dirancang untuk menjawab kompleksitas kebutuhan masyarakat terdampak bencana secara menyeluruh.
“Respons bencana tidak bisa dilakukan secara sektoral. Kami mengintegrasikan layanan kesehatan, pemenuhan kebutuhan dasar, dukungan psikososial, serta sistem data dan administrasi agar respons lebih cepat, tepat, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pilar 1: Logistik dan Pemenuhan Kebutuhan Dasar
Pada pilar logistik, USU menyalurkan bantuan kebutuhan dasar kepada masyarakat terdampak di berbagai lokasi pengungsian formal maupun non-formal. Bantuan meliputi paket sembako, makanan siap konsumsi, alat tulis, perlengkapan kebersihan, serta kebutuhan anak-anak yang terdampak bencana.
Distribusi logistik dilakukan secara terintegrasi dengan kegiatan lapangan lainnya, seperti layanan kesehatan dan pendampingan psikososial. Hasil pemantauan lapangan menunjukkan masih adanya tantangan dalam pemerataan distribusi bantuan, khususnya di wilayah pengungsian mandiri seperti rumah kosong di kawasan perkebunan.
Temuan ini kemudian dicatat sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan tata kelola distribusi bantuan agar lebih adil dan tepat sasaran.
Pilar 2: Layanan Kesehatan dan Gizi
Pada pilar layanan kesehatan dan gizi, Universitas Sumatera Utara (USU) tidak hanya menghadirkan pemeriksaan kesehatan komprehensif bagi masyarakat terdampak bencana, tetapi juga melakukan intervensi strategis untuk menjamin ketersediaan air bersih yang aman sebagai fondasi utama pencegahan penyakit pascabencana.
Kegiatan ini menjadi krusial mengingat rusaknya sumber air dan meningkatnya risiko penyakit berbasis lingkungan setelah bencana.
Tim kesehatan USU memberikan layanan pemeriksaan kesehatan dasar dan lanjutan di posko-posko kesehatan dan titik layanan strategis, dengan fokus pada deteksi dini penyakit pascabencana seperti infeksi saluran pernapasan, penyakit kulit, diare, serta pengelolaan penyakit kronis yang memburuk akibat kondisi darurat.
Layanan ini bertujuan mencegah terjadinya krisis kesehatan lanjutan di tengah keterbatasan fasilitas pascabencana.
Sebagai bagian integral dari upaya promotif dan preventif, USU juga mengembangkan dan memasang sistem saringan air bersih dan filtrasi air di beberapa titik strategis di wilayah terdampak. Sistem ini dirancang untuk menyaring air baku yang tercemar lumpur dan limbah pascabencana agar layak digunakan untuk kebutuhan dasar masyarakat, terutama untuk minum, memasak, dan sanitasi.
Penanggung jawab kegiatan ini, Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes. dan Ir. Robi Arianta Sembiring, S.T., M.Eng., menjelaskan bahwa penyediaan air bersih merupakan bagian tak terpisahkan dari layanan kesehatan pascabencana.
Ada 2 metode filter pasir lambat dan metode ultrafiltrasi yang dibangun menggunakan teknologi tepat guna yang mudah dioperasikan dan dirawat oleh masyarakat setempat, sehingga dapat dimanfaatkan tidak hanya selama masa tanggap darurat, tetapi juga pada fase rehabilitasi dan rekonstruksi.
Intervensi air bersih ini secara langsung berkontribusi pada penurunan risiko penyakit berbasis air, seperti diare dan infeksi kulit, serta memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat. Dengan mengintegrasikan layanan medis dan penyediaan air bersih, pilar ini menegaskan pendekatan USU yang tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga preventif dan berkelanjutan dalam penanggulangan bencana.
Pilar 3: Pendampingan Psikososial Penyintas
Pendampingan psikososial menjadi pilar penting dalam upaya pemulihan non-fisik penyintas bencana. Tim psikolog dan relawan USU melaksanakan asesmen psikologis, observasi lapangan, serta pendampingan kepada anak-anak, tenaga kesehatan, dan kelompok rentan lainnya.
Kegiatan ini dilakukan di berbagai lokasi, seperti Puskesmas Tukka, GOR Pandan, Posko KORPS BRIMOB, masjid, serta kawasan perkebunan tempat warga mengungsi. Metode pendampingan mencakup aktivitas bermain, menggambar, bercerita, serta interaksi kelompok untuk membantu anak-anak mengekspresikan emosi dan mengurangi dampak trauma.
Hasil asesmen menunjukkan bahwa anak-anak penyintas membutuhkan ruang aman yang terstruktur untuk memulihkan kondisi emosional mereka. Selain itu, ditemukan pula tenaga kesehatan yang mengalami kelelahan psikologis akibat beban kerja selama masa bencana, sehingga memerlukan dukungan psikososial khusus.
Pilar 4: Dukungan Administrasi Publik melalui Manajemen Data Kebencanaan
Pada pilar dukungan administrasi publik, Universitas Sumatera Utara (USU) menempatkan manajemen data dan informasi kebencanaan sebagai elemen kunci dalam efektivitas respons bencana. Tim dari Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi (Fasilkom-TI) USU mengembangkan sistem informasi manajemen bencana terintegrasi yang dirancang untuk mengakuisisi, mengolah, dan menyajikan data lapangan secara akurat dan real-time.
Sistem ini mencakup pencatatan hasil asesmen kondisi lokasi, data pengungsi, kebutuhan logistik, hingga laporan kesehatan, yang seluruhnya dihimpun dalam satu dashboard terpusat melalui portal “USU Peduli”.
Untuk memastikan sistem dapat berfungsi optimal di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur, tim juga memasang konektivitas internet berbasis Starlink di lokasi-lokasi vital seperti Puskesmas, posko pengungsian, dan sekolah.
Penanggung jawab Manajemen Data dan Informasi, Dr. Eng. Ade Candra, S.T., M.Kom., menegaskan bahwa integrasi data menjadi prasyarat utama koordinasi yang efektif dalam situasi bencana.
“Dalam situasi bencana, informasi yang akurat dan tersedia secara real-time adalah aspek penting untuk koordinasi. Tanpa data yang terintegrasi, bantuan bisa salah sasaran dan respons menjadi lambat. Tim dari Fasilkom-TI USU mengembangkan sistem untuk mengakuisisi data, mulai dari asesmen kondisi lokasi hingga distribusi logistik. Dengan konektivitas Starlink yang kami pasang di lokasi vital seperti Puskesmas dan sekolah, kami mengusahakan sistem dapat diakses dan berfungsi optimal di daerah terpencil,” ujarnya.
Melalui pilar ini, USU menargetkan empat tujuan strategis utama. Pertama, menghentikan fragmentasi data dengan menggabungkan seluruh laporan lapangan ke dalam satu sistem terpusat agar pimpinan dan relawan memiliki gambaran situasi yang seragam. Kedua, mempercepat pengambilan keputusan melalui visualisasi data secara real-time, seperti peta dampak bencana, kebutuhan logistik, dan tren penyakit.
Ketiga, sistem ini dirancang untuk meningkatkan akuntabilitas publik dengan memungkinkan pelacakan distribusi bantuan dari hulu hingga hilir secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Keempat, USU membangun infrastruktur digital berkelanjutan yang diharapkan dapat diwariskan dan diadopsi oleh pemerintah daerah sebagai bagian dari peningkatan kesiapsiagaan dan ketahanan menghadapi bencana di masa mendatang.
Pendekatan ini menandai transformasi dukungan teknologi dari sekadar alat bantu operasional menjadi fondasi tata kelola penanggulangan bencana yang berbasis data, transparan, dan berorientasi jangka panjang
Menuju Ketahanan Jangka Panjang
Selain respons darurat, The On Loop Ranger juga mengintegrasikan edukasi kebencanaan dan literasi digital bagi anak-anak sekolah dasar. Pendekatan ini bertujuan membangun pemahaman risiko bencana sejak dini serta memperkuat kapasitas adaptif masyarakat di masa mendatang.
Melalui pendekatan empat pilar ini, Universitas Sumatera Utara menegaskan perannya dalam menghadirkan penanggulangan bencana yang komprehensif, berbasis data, dan berorientasi pada ketahanan jangka panjang, sekaligus menawarkan model respons multidisipliner yang dapat direplikasi di wilayah rawan bencana lainnya.
