Jakarta (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan angka kemiskinan Indonesia pada September 2025 tercatat sebesar 8,25 persen, turun 0,22 poin persen dibandingkan Maret 2025 yang berada di level 8,47 persen.
“Jumlah penduduk miskin pada September 2025 sebanyak 23,36 juta orang atau turun sekitar 490 ribu orang dibandingkan Maret 2025,” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.
Secara tren, Amalia menyampaikan bahwa jumlah maupun persentase penduduk miskin terus menunjukkan penurunan.
BPS mencatat, jumlah penduduk miskin pada Maret 2025 masih berada di angka 23,85 juta orang, sebelum turun menjadi 23,36 juta orang pada September 2025.
Sementara itu, jumlah rumah tangga miskin secara nasional pada September 2025 tercatat sebanyak 4,91 juta rumah tangga.
Meski demikian, Amalia memandang pentingnya pemahaman publik terhadap metode penghitungan angka kemiskinan.
Ia menjelaskan garis kemiskinan dihitung berdasarkan pendekatan pengeluaran penduduk yang dikumpulkan melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).
“Pengeluaran penduduk, baik individu maupun keluarga, biasanya dicatat pada level rumah tangga, seperti pengeluaran untuk listrik, sewa rumah, bahan makanan, dan kebutuhan lainnya,” jelasnya.
Adapun garis kemiskinan nasional pada September 2025 tercatat sebesar Rp641.443 per kapita per bulan, naik dibandingkan Maret 2025 yang sebesar Rp609.160. Sementara itu, garis kemiskinan rumah tangga secara nasional tercatat sebesar Rp3.053.269 per bulan.
Menurut Amalia, besaran garis kemiskinan rumah tangga berbeda antarwilayah karena dipengaruhi oleh tingkat harga dan pola konsumsi masyarakat setempat.
Berdasarkan wilayah, tingkat kemiskinan di perkotaan pada September 2025 tercatat sebesar 6,6 persen, turun 0,13 persen poin dibandingkan Maret 2025.
Sementara itu, tingkat kemiskinan di perdesaan tercatat sebesar 10,72 persen, turun 0,31 persen poin.
“Artinya, tingkat kemiskinan mengalami penurunan baik di perkotaan maupun di perdesaan,” ujarnya.
Lebih lanjut, BPS mencatat Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) pada September 2025 turut mengalami penurunan baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan.
Penurunan ini menunjukkan rata-rata jarak pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan semakin menyempit.
Sementara itu, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di wilayah perdesaan juga mengalami penurunan, sedangkan di wilayah perkotaan relatif tidak berubah.
Amalia menilai kondisi ini mengindikasikan distribusi pengeluaran di antara penduduk miskin di perdesaan semakin merata.
Meski demikian, BPS mencatat penduduk miskin masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Sebanyak 12,32 juta orang miskin atau sekitar 52,75 persen dari total penduduk miskin nasional berada di wilayah tersebut.
Sebaliknya, jumlah penduduk miskin paling sedikit berada di Pulau Kalimantan, yakni sekitar 880 ribu orang atau 3,76 persen dari total penduduk miskin nasional.
Jika dibandingkan dengan Maret 2025, penurunan tingkat kemiskinan tercatat terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Penurunan terdalam terjadi di wilayah Maluku dan Papua yang mencapai 0,68 persen poin.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BPS: Angka kemiskinan September 2025 turun jadi 8,25 persen
