Medan (ANTARA) - PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) resmi memperkuat hilirisasi pengolahan dan pemurnian bauksit–alumina–aluminium terintegrasi dengan peletakan batu pertama di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
Proyek ini menandai langkah strategis Inalum bersama Grup MIND ID mendukung kebijakan hilirisasi mineral sesuai Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
"Ini sejalan arah kebijakan Asta Cita Presiden Prabowo menempatkan hilirisasi sebagai pilar utama penguatan industri nasional," ujar Direktur Utama Inalum Melati Sarnita dalam keterangan tertulis di Medan, Selasa (10/2).
Pihaknya menyebutkan, hilirisasi ini akan membuat Indonesia memiliki posisi tawar yang lebih baik dalam komoditas strategis, khususnya aluminium.
Ia berharap swasembada aluminium pada 2030 dapat tercapai setelah peletakan batu pertama di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat di Jakarta, Jumat (6/2).
"Hilirisasi bauksit menjadi aluminium merupakan agenda strategis nasional untuk memperkuat kemandirian sektor industri Indonesia," katanya.
Percepatan pembangunan smelter dan refinery menjadi upaya menekan ketergantungan impor, meningkatkan daya saing, dan membangun rantai pasok aluminium terintegrasi dari hulu hingga hilir memberikan pertumbuhan ekonomi bagi Indonesia.
Fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit–alumina–aluminium terintegrasi di Mempawah ini terdiri dari smelter grade alumina refinery (SGAR) fase 2 dan smelter aluminium.
Dibangun di area yang sama dengan SGAR Fase 1 berkapasitas 1 juta ton alumina per tahun, dan SGAR Fase 2 juga dikelola oleh PT Borneo Alumina Indonesia, anak perusahaan Inalum dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) memiliki kapasitas produksi 1 juta ton alumina per tahun.
"Dengan demikian, kapasitas produksi alumina domestik meningkat menjadi 2 juta ton per tahun dengan penyerapan bijih bauksit sebesar 6 juta ton per tahun," ucap Melati.
Hal ini, tutur dia, dipasok dari seluruh area Izin Usaha Pertambangan PT Aneka Tambang Tbk di Kabupaten Mempawah dan Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.
"Sementara itu, pasokan listrik untuk amelter aluminium kedua akan diperoleh dari PT Bukit Asam Tbk," jelas Melati.
Pembangunan smelter aluminium di Mempawah memiliki kapasitas produksi sebesar 600.000 ton per tahun, dan seluruh produksinya diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan aluminium domestik.
Dengan menggabungkan produksi aluminium dari smelter Inalum di Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, sehingga total kapasitas produksi aluminium mencapai sekitar 900 ribu ton per tahun.
"Pembangunan dan pengoperasian fasilitas pengolahan dan peleburan aluminium terpadu ini merupakan bagian dari program strategis nasional dengan total nilai investasi Rp104,55 triliun atau setara 6,23 miliar dollar AS," tutur Melati.
Pewarta: Muhammad SaidEditor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026