Tapanuli Selatan (ANTARA) - Langkahnya pelan dan tertatih. Di usia yang kian renta, seorang perempuan lanjut usia menyusuri sisi Gedung Sopo Daganak Batang Toru, posko pengungsian korban banjir bandang dan tanah longsor Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara.
Tangannya menggapai jemuran, mengangkat satu persatu pakaian yang telah kering sebelum cuaca kembali muram, Kamis (25/12).
Tak ada keluhan keluar dari bibirnya. Hanya napas pendek dan gerak tubuh yang berbicara tentang usia dan lelah yang ia pikul sejak bencana datang merenggut rumah serta kesehariannya di Desa Garoga.
Saat disapa ANTARA, perempuan itu tampak kesulitan menangkap percakapan. Pendengarannya terganggu, ingatannya tak lagi utuh—usia memaksa dialog berlangsung perlahan.
Namun ketika berkali ditanya tentang namanya, jawabannya tegas, seakan ingatan itu masih ia genggam erat.
“Goarku boru Panggabean. Umurhu hampir 80 taon,” ucapnya lirih, dalam bahasa Batak Toba yang sederhana namun jelas. (Artinya: Namaku boru Panggabean. Usia saya hampir 80 tahun.)
Sambil menenteng pakaian yang baru diangkat dari jemuran, ia beranjak masuk ke dalam gedung pengungsian—tempat ia dan puluhan penyintas lain kini menata ulang hidup dari sisa-sisa yang ada.
Gedung Sopo Daganak, yang dibangun PT Agincourt Resources selaku pengelola Tambang Emas Batang Toru, untuk sementara difungsikan sebagai tempat penampungan korban bencana.
Di sanalah boru Panggabean melewati hari-hari pascabencana, bersama kenangan tentang kampung halaman yang kini berubah wajah.
Pada hari itu, posko tidak lagi menerima bantuan logistik dari (Malim Bandaharo) donasi. Petugas menyebutkan persediaan telah penuh dan padat.
Saat ini, sekitar 36 kepala keluarga masih bertahan di Sopo Daganak, sementara sebagian besar pengungsi lainnya telah memilih menumpang di rumah sanak keluarga.
Banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Tapanuli Selatan tercatat merenggut 88 nyawa, sedikitnya tercatat 20 orang masih dinyatakan hilang, serta menghanyutkan ratusan rumah, ribuan rumah rusak, termasuk berbagai fasilitas umum.
Di balik data dan angka duka itu, boru Panggabean berdiri sebagai potret sunyi ketabahan. Di usia senja, ia masih menjemur, mengangkat, dan melipat pakaian—sebuah rutinitas kecil yang menjadi caranya menjaga martabat, sambil menunggu hari-hari yang entah kapan akan benar-benar pulang.
Pewarta: Kodir PohanEditor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026