Tapanuli Selatan (ANTARA) - Penghentian sementara kegiatan operasional tambang emas Martabe tidak serta-merta menghentikan pengelolaan lingkungan di area tambang. Justru pada fase ini, pemantauan dan pemeliharaan menjadi fokus utama, dengan kegiatan inspeksi lapangan dan pemantauan kualitas air yang tetap dilakukan secara berkala, termasuk melalui pengambilan sampel rutin dan pengujian oleh laboratorium independen.
Dalam keterngan yang terima, Selasa (21/3), dikatakan Tim PT Agincourt Resources (PTAR) di lapangan terus melakukan inspeksi rutin, memantau aliran dan kualitas air, serta memastikan berbagai sistem pendukung tetap berfungsi dengan baik. Kegiatan ini dilakukan secara konsisten, sejak awal Martabe beroperasi pada tahun 2012, baik melalui pengecekan langsung maupun sistem pemantauan berbasis real-time.
Pemeliharaan dan pemantauan yang disiplin menjadi makin relevan jika dikaitkan dengan temuan kajian ilmiah CENAGO ITB bahwa kontribusi aktivitas industri terhadap bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Sumatera pada November 2025 sangat kecil.
Data teknis juga membuktikan bahwa keberadaan infrastruktur teknik di area operasional justru berfungsi sebagai penahan (buffer) limpasan air yang membantu mengurangi debit aliran sebelum mengalir ke wilayah hilir. Salah satu fasilitas yang terus dipantau dan dipelihara secara intensif adalah Tailings Storage Facility (TSF), yaitu area penampungan tailings atau sisa hasil proses pengolahan bijih.
Pengelolaan fasilitas ini menjadi prioritas karena berkaitan erat dengan keberlanjutan operasional dan pengelolaan lingkungan secara sistematis. “Pemantauan dilakukan untuk mengawasi aliran dan kualitas air di seluruh area TSF, termasuk sistem drainase dan rembesan, serta titik-titik aliran air lain guna memastikan pengelolaan air tetap berjalan sesuai standar keselamatan dan lingkungan yang berlaku,” ujar Aris Tambunan , Senior Manager Mining PTAR.
Melalui alat pemantau real time dan inspeksi lapangan, potensi perubahan kondisi dapat dideteksi sedini mungkin sehingga langkah penanganan dapat segera dilakukan secara cepat dan tepat.“Seluruh kegiatan ini kami lakukan untuk memastikan kondisi lingkungan operasional tetap aman dan stabil,” tambahnya.
Fasilitas TSF PTAR dirancang oleh konsultan geoteknik internasional dan mengacu pada standar desain untuk mengantisipasi hujan ekstrem. Analisis geoteknik dilakukan untuk memastikan stabilitas struktur geoteknik, seperti lereng, pondasi, dan dinding penahan tanah.
Aris menambahkan bahwa TSF diawasi melalui sistem pengawasan berlapis yang mencakup pemantauan internal, instrumentasi, inspeksi visual, serta pengawasan regulator dan tinjauan independen. Fasilitas ini memenuhi standar International Committee on Large Dams (ICOLD) dan melalui proses verifikasi kualitas secara berkala.
“Kami memastikan bahwa kondisi TSF hingga saat ini tetap aman dan stabil. Fasilitas ini dirancang untuk mengelola tambahan sekitar 2,1 juta meter kubik air saat terjadi hujan ekstrem hingga 504 milimeter dalam 72 jam, dan kinerjanya telah diverifikasi oleh konsultan bendungan independen,” pungkasnya.
Secara operasional, TSF Martabe berada dalam kondisi aman, stabil, dan beroperasi normal, termasuk pada peristiwa hujan ekstrem yang terjadi pada 24–26 November 2025, dengan curah hujan lebih dari 500 milimeter yang tercatat sebagai salah satu yang tertinggi dalam setidaknya 50 tahun terakhir. Meskipun menghadapi curah hujan yang sangat tinggi, tanggul TSF secara keseluruhan menunjukkan kinerja yang baik dan tetap memenuhi parameter keselamatan yang ditetapkan.
Pewarta: Kodir PohanEditor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026