Tapanuli Selatan (ANTARA) - Korban banjir dan longsor di Kampung Durian, Desa Batu Godang, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara menagih kepastian hunian tetap (huntap) setelah lebih dari tiga bulan hidup dalam ketidakpastian pascabencana 25 November 2025.

Sugiman (50), salah seorang warga, mengatakan rumahnya memang tidak tertimbun longsor, namun lokasinya berada tidak jauh dari bukit retak yang menelan 22 korban jiwa saat bencana terjadi.

“Sejak bencana itu kami tidak berani lagi tidur di rumah. Trauma dan takut longsor susulan. Apalagi delapan dari 22 korban merupakan keluarga dekat,” kata Sugiman menghubungi ANTARA, Kamis.

Ia menyebutkan, dari 19 kepala keluarga yang sebelumnya tinggal di Kampung Durian, sebanyak 15 rumah terdampak langsung bencana.

Pemerintah kemudian merencanakan pembangunan hunian tetap di Dusun Taman Sari, Desa Hapesong Baru, Kecamatan Batang Toru.

Namun Sugiman mengaku tidak masuk dalam daftar penerima hunian tetap meskipun telah didata oleh pemerintah daerah. Termasuk keluarga lain, yakni Kerman, Loso, dan Juliadi, 

Menurutnya, mereka kini terpaksa meninggalkan kampung karena lokasi dinilai tidak lagi aman. Ia (Sugiman-red) bersama keluarganya harus menyewa rumah di Batang Toru dengan biaya sekitar Rp300 ribu per bulan di luar biaya listrik dan air.

Kepala Desa Batu Godang, Mahmudin Sihombing, membenarkan empat keluarga tersebut tidak tercatat sebagai penerima hunian tetap karena rumah mereka tidak mengalami kerusakan saat bencana.

Sementara itu, Camat Batang Toru, Mara Tinggi Siregar, mengatakan pemerintah pusat saat ini tengah membangun sekitar 227 unit hunian tetap di Dusun Taman Sari, termasuk 19 unit untuk warga Kampung Durian.

Hingga kini, empat keluarga tersebut masih menunggu kepastian apakah mereka juga akan mendapatkan hunian yang dinilai aman dari ancaman longsor, mengingat kawasan Kampung Durian telah direlokasi.



Pewarta: Kodir Pohan
Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARA 2026