Medan, 12/3 (Antara) - Perubahan iklim di Sumatera Utara dengan memasuki musim panas beberapa hari terakhir ini, rentan terkena serangan radang tenggorokan akibat polusi udara dan intensitas debu di jalanan terus meningkat, ungkap seorang dokter spesialis THT Prof Delfitri Munir di Medan, Selasa.

"Jika debu-debu yang mengandung bakteri atau virus masuk ke dalam tenggorokan dapat menyebabkan radang tenggorokan," katanya.

Radang tenggorokan ini penyakit yang paling sering dialami manusia, bahkan semua orang pernah menderita penyakit jenis ini. Radang tenggorokan adalah terjadinya pembengkakan pada dinding tenggorokan yang mana pada saat menelan akan terasa sakit.

"Karena tenggorokan itu sering terpapar udara yang masuk dari mulut maupun hidung. Tiap hari ada orang yang datang ke rumah sakit ataupun puskesmas dengan keluhan ini, karena kalau udara panas dan kering salah satu pemicunya," katanya.

Menurut dia ciri-ciri radang tenggorokan ini antara lain ada perasaan tidak enak di mulut, sakit saat menelan, suara terkadang menjadi serak, dan untuk beberapa kasus mengalami demam.

Saat cuaca panas, lanjutnya, makanan berminyak seperti gorengan dan minuman es sebaiknya dihindari, karena keduanya dapat menyebabkan iritasi dan infeksi pada tenggorokan.

Ia menyarankan sebaiknya masyarakat pada cuaca panas harus memperbanyak minum air putih dan konsumsi buah dan sayur, terutama buah dan sayur yang mengandung vitamin C.

Selain untuk mengobati sakit tenggorokan, vitamin C juga berguna untuk meningkatkan kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit flu dan batuk.

"Perbanyak minum air putih dan konsumsi buah-buahan. Kalau cuaca panas sebaiknya memakai penutup atau masker kalau mau keluar rumah. Tapi sebaiknya, kalau cuaca panas jangan keluar dari rumah," katanya.***4***

(T.KR-JRD/B/M. Taufik/M. Taufik) 12-03-2013 18:51:59


:

COPYRIGHT © ANTARA 2026