Medan (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) mengantisipasi ancaman El Nino yang diperkirakan melanda wilayah Indonesia dengan memperkuat mitigasi guna menjaga produksi pangan di daerah.
"Kita sudah menyiapkan antisipasi, dan upaya menjaga produksi pangan agar tetap stabil," ucap Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Sumut Yusfahri Parangin-angin dalam temu pers di Kantor Gubernur Sumut, Rabu (20/5).
Salah satu langkah yang dilakukan, lanjut dia, yakni menyiapkan Brigade Proteksi Tanaman merupakan unit siaga khusus Kementerian Pertanian bertugas mencegah kerusakan tanaman di seluruh wilayah Sumut.
Pihaknya mengaku, memiliki enam Brigade Proteksi Tanaman di Sumatera Utara, yakni Brigade Deli Serdang, Brigade Simalungun, Brigade Karo, Brigade Asahan, Brigade Tapanuli Selatan, dan Brigade Tapanuli Tengah.
"Apa persiapannya?, kita menyiapkan pompa. Brigade ini, seperti pemadam kebakaran, siap siaga. Kalau banjir mereka juga bergerak supaya tanaman tidak rusak," jelas Yusfahri.
Ia juga mengatakan, Kementerian Pertanian telah memberikan peringatan dini dampak kekeringan. Karena itu, kata dia, pompa-pompa telah disalurkan dan terus dipantau agar dapat dimanfaatkan secara optimal.
Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Sumut pada 2025, menyatakan, Pemprov Sumut dua tahun terakhir telah menyalurkan sekitar 2.500 unit pompa air ke seluruh kabupaten/kota di Sumatera Utara sebagai kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan akibat El Nino.
"Artinya ini bentuk kesiapsiagaan kita, 2.500 pompa yang sudah kita salurkan," kata Yusfahri.
Ia berharap, adanya ancaman El Nino diperkirakan melanda Sumatera Utara nantinya, namun produksi pangan tetap terjaga sehingga ketersediaan pangan masyarakat Sumut tidak terganggu.
"Mudah-mudahan kita tidak jumawa. Kita berharap semoga Yang Maha Kuasa meridai apa yang kita lakukan, produksi terjaga," tutur Yusfahri.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, kondisi iklim global berpotensi berkembang menuju fenomena El Nino lemah hingga moderat pada semester kedua 2026 dengan peluang sekitar 50-80 persen, sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani di Jakarta, Kamis (9/4), mengatakan, saat ini kondisi El Nino Southern Oscillation (ENSO) masih berada fase netral, namun indikasi penguatan menuju El Nino perlu diwaspadai karena dapat memperparah musim kemarau di Tanah Air.
BMKG menilai, hasil kajian ahli potensi musim kemarau yang datang lebih awal, dan berlangsung lebih panjang dan secara umum kondisi iklim di 2026 diperkirakan lebih kering dibandingkan normal.
"Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Kemarau merupakan siklus klimatologis, namun jika terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering,” kata Faisal.
Pewarta: Muhammad SaidEditor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026