Tapanuli Selatan (ANTARA) - Menjelang dua bulan usai banjir bandang dan longsor di Kecamatan Marancar, warga kembali dibuat kaget. Jika sebelumnya berjibaku dengan lumpur, kini ular-ular bermunculan seolah ikut menagih perhatian.
Ular berbisa dan tidak berbisa dilaporkan muncul di Desa Simaninggir hingga Aek Malakkut. Fenomena ini membuat warga yang biasa ke kebun kini lebih sering menoleh kiri-kanan sebelum melangkah.
Di lokasi longsor Aek Malakkut, petugas dan aparat desa sempat terperanjat. Saat membersihkan material longsor, seekor ular piton berukuran besar tiba-tiba muncul, seakan ikut memantau kegiatan gotong royong.
Kemunculan piton tersebut cukup mengejutkan warga. Pasalnya, ular sebesar itu jarang terlihat di kawasan tersebut, meski wilayah Marancar dikenal dikelilingi hutan dan lahan pertanian.
Kejutan berlanjut Kamis (15/1). Dua ekor ular kobra dilaporkan melintas santai di badan jalan Desa Simaninggir, membuat warga yang lewat memilih berhenti sejenak sambil memastikan jarak aman.
Kedua kobra itu diperkirakan memiliki panjang sekitar dua meter. Ukurannya cukup untuk membuat rasa waspada meningkat, terutama bagi warga yang setiap hari melintas jalur tersebut.
Sekretaris Desa Simaninggir, Alex Ritonga, mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap anak-anak. Menurutnya, pasca bencana, kemunculan satwa liar terasa semakin sering.
“Setelah bencana, ular berbisa jadi sering muncul. Dulu jarang terlihat, sekarang malah muncul di jalan,” ujar Alex, heran sekaligus mengingatkan warga.
Warga berharap pihak terkait segera melakukan langkah antisipatif, agar pasca bencana tidak bertambah cerita menegangkan—dan aktivitas berkebun bisa kembali tenang tanpa kejutan bersisik.
