Sekitar 56 tahun yang lalu, atau pada kisaran tahun 1960 an balkon Pajak Batu Padangsidimpuan menjadi pusat perhatian. Seluruh masyarakat dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Selatan datang berduyunduyun memadati Padangsidimpuan selaku ibukota kabupaten.
Pusat perhatian masyarakat adalah balkon Pajak Batu yang berdiri megah, karena di balkon itulah Presiden Republik Indonesia pertama Ir Soekarno berdiri dan menyampaikan pidatonya yang penuh semangat.Pidatonya yang menggelegar menjadi magnet tersendiri bagi rakyat. Sehingga apabila beliau tampil berpidato tetap menjadi pusat perhatian.
Disebut Pajak Batu adalah pusat pasar yang dibangun terbuat dari batu bata. Adapun tempat berjualan ketika itu berupa toko, terbuat dari papan. Rumah tokoh (ruko) seperti sekarang belum ada. Pajak Batu merupakan pasar modern ketika itu yang menjadi kebanggan tersendiri bagi rakyat Tapanuli Selatan, ketika Soekarno dapat berkunjung ke kabupaten paling selatan di Sumatera Utara itu.
Balkon tempat berdirinya Bung Karno, sapaan lain dari Soekarno terletak pada bubungan Pajak Batu yang dapat dilihat langsung oleh masyarakat dari berbagai sisi. Tempat berdirinya dan menyampaikan pidato itu dapat dilihat dari arah Jalan Merdeka, Jalan Sitombol/Pange-ran Diponegoro dan dari arah Alaman Bolak yang sekarang.
Manusia berjejal dari ketiga titik itu khusus memandang langsung wajah Presiden dan pendiri Republik Indonesia tercinta ini.
Peristiwa itu bukan hanya menggelorakan rakyat Tapanuli Selatan, namun menjadi catatan sejarah tentang berdirinya pusat pasar yang dapat memacu denyut jantung perekonomian rakyat Kabupaten Tapanuli Selatan ketika itu. Selain status Pajak Batu selaku pusat pasar modern di zamannya, akan tetapi menjadi pusat perbelanjaan yang memiliki desain unik itu menjadi pusat perhatian dunia.
Kepala Bidang (Kabid) Pasar Kantor Perindag Pasar Koperasi dan UKM Kota Padangsidimpuan Hariri Hasibuan S.STP mengemukakan, Jum'at, keunikan gedung Pajak Batu dan Rumah Dinas Walikota Padangsidimpuan telah terdaftar di Badan UNESCO. Keunikan lain dari pusat perbelanjaan ini menurut Hariri, salah satu terletak pada bagian atapnya/bubungan melengkung sehingga populer disebut desain kapal Nabi Nuh terbalik.
Berhubung dengan status gedung pusat perbelanjaan memiliki desain yang unik dan bersejarah, pada tahun anggaran 2016 ini mendapat kucuran dana restorasi sebesar Rp.1,4 Miliar. Menyinggung perombakan gedung ini dan meningkatkan statusnya ke pasar modern seperti gedung plaza atau mall diakui Hariri Hasibuan pihak Pembo Padangsidimpuan tidak memiliki keberanian melakukan itu. Alasannya karena gedung tersebut sudah terdaftar di UNESCO dan tidak diperbolehkan merubah bentuk aslinya.
â€Bentuk asli dari pusat perbeanjaan itu harus tetap dipertahankan dengan arsitektur bernilai tinggi dan diposisikan menjadi Pasar Wisataâ€, ujar Hariri Hasibuan.
Hariri yakin, keunikan dari desain pusat perbeanjaan ini setelah selesai direstorasi akan menjadi pusat perhatian, bukan hanya di tingkat lokal tetapi menembus mancanegara.Hal demikian dapat terwujud berkaitan dengan gencarnya pembangunan obyek wisata Danau Toba setelah ditangani suatu badan Otorita.
Kelak dengan adanya upaya pemerintah pusat dan Otorita Toba mendatangkan wisatawan mancanegara ke Sumatera Utara, beberapa kabupaten kota di sekitar Danau Toba akan mendapat imbasnya. Maka tidak heran, Tapanuli Selatan, Kota Padangsidimpuan dan Padanglawas Utara menjadi target berikutnya sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW) selaku pemilik panorama, sejarah dan budaya.
Mencermati gelagat yang mengemuka, Pemko Padangsidimpuan memandang jeli akan prospek yang sudah berada di depan mata. Dengan merestorasi Pajak Batu menjadi Pasar Wisata dan merawat rumah dinas Walikota Padangsidimpuan, serta memugar terowongan bawah tanah di seputaran gereja yang berada di sisi Jalan Balai Kota Padangsidimpuan menjadi daya tarik tersendiri bagi sejumlah turis.
Kerja Terpadu
Mewujudkan Pasar Wisata Kota Padangsidimpuan menurut Hariri, harus kerja keras dan terpadu. Kerja keras saja tidak cukup, namun benar-benar melibatkan seluruh instansi terkait dan sejumlah elemen yang bersinggungan dengan Pasar Wisata.Instansi yang terkait dengan program mewujudkan Pasar Wisata itu seperti Bappeda, pariwisata, pendapatan, lingkungan hidup, Dinas PU dan elemen swasta yang terkait dengan itu.
Tujuan utama dari program yang dirancang sebelumnya, selain mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan sebagaimana prilaku pusat perdagangan, juga dengan kehadiran Pasar Wisata akan menghidupkan suasana malam di kota Padangsidimpuan.†Seperti yang terjadi sekarang, apabila ada tamu kita yang berkunjung ke Kota Padangsidimpuan dan hendak mengajaknya jalan-jalan pada malam hari, mau kita bawa kemana…?†tanya Hariri.
Tetapi dengan konsep Pasar Wisata ini telah dirancang berbagai kegiatan bisnis di dalam satu lingkup terpadu, mulai dari panggung hiburan, pusat kuliner di bawah tenda biru, pusat perbelanjaan oleh-oleh, pasar buah dan berbagai kegiatan bisnis lainnya pada malam hari.
Pusat perbelanjaan seluas 40397,75 meter itu memang tidak mampu menampung seluruh kegiatan,tapi jalan yang berada di selatannya dapat ditutup pada malam hari, berikut bagian samping Alaman Bolak dapat juga dipergunakan pedagang yang ditata sedemikian rupa.
Sesungguhnya apabila dibuat satu kajian terurai menurut Hariri, aikon Kota Padangsidimpuan telah hilang. Disebut Kota Salak, padahal tidak ada kebun salak di wilayah Kota Padangsidim-puan. Seluruh kebun salak, arealnya berada di Kabupaten Tapanuli Selatan. Sepertinya Kota Padangsidimpuan mencari jatidiri atau aikon sendiri dengan apa yang disebut sebagai kota pelajar, perdagangan dan jasa.
Menyinggung kondisi pedagang Pajak Batu sekarang dengan program Pasar Wisata, ruangan tempat berjualan di dalam, dikembalikan kepada bentuk aslinya. Demikian pula dengan pemanpatan kantor di bagian depan gedung akan dicarikan jalan terbaik sehingga kelak Pasar Wisata itu memiliki maknit tersendiri bagi wisatawan lokal dan mancanegara.
