Tapanuli Selatan (ANTARA) - Pagi itu, AAS (16) masih sempat meminta susu kepada nenek angkatnya di sebuah rumah sederhana di Desa Wek IV, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara.
Tak lama kemudian, remaja itu meregang nyawa.
Di samping tubuhnya, keluarga menemukan botol herbisida yang isinya telah banyak berkurang.
Sebelum dilarikan ke puskesmas menggunakan becak, AAS beberapa kali menyiram tubuhnya dengan air karena merasa kepanasan.
“Korban sempat mengaku pikirannya sumpek,” kata Kapolsek Batang Toru AKP P. M. Siboro sesuai keterngan yang diterima.
Kalimat itu singkat. Namun di baliknya, diduga tersimpan ruang sunyi yang mungkin terlalu berat dipikul seorang anak berusia 16 tahun.
Selama tujuh tahun terakhir, AAS diasuh nenek angkatnya karena orang tuanya harus membesarkan delapan anak dalam keterbatasan ekonomi.
Meski tinggal di desa yang sama, hidup rupanya tetap menyisakan jarak yang tidak selalu terlihat.
Warga menyebut AAS belakangan sering murung dan gelisah. Tidak banyak bicara. Tidak banyak mengeluh.
Hingga Selasa 5 Mei 2026 itu, pergumulannya berhenti dengan cara yang menyisakan duka panjang.
Kisah AAS bukan hanya tentang satu remaja yang meninggal di Batang Toru. Ini menjadi pengingat bahwa banyak anak muda sedang berjuang diam-diam melawan tekanan yang tak selalu dipahami lingkungan sekitarnya.
Kadang mereka tidak membutuhkan ceramah panjang. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang benar-benar mau mendengar.
Pewarta: Kodir PohanEditor : Akung
COPYRIGHT © ANTARA 2026