Madina (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina), Sumatera Utara, menjalin kerja sama dengan Universitas Medan Area (UMA) untuk menghidupkan kembali komoditas pisang kepok melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Action (MoA), Selasa.

Penandatanganan berlangsung di Aula Kantor Bupati, Kompleks Perkantoran Payaloting, Panyabungan, sebagai tindak lanjut dari sejumlah pertemuan sebelumnya, termasuk yang digelar di Medan pada awal tahun ini.

Bupati Mandailing Natal Saipullah Nasution mengatakan, upaya mengembalikan kejayaan pisang kepok merupakan bagian dari implementasi visi dan misi pemerintah daerah dalam memperkuat sektor pertanian berbasis komoditas unggulan.

“Kerja sama ini bersifat komprehensif dari hulu hingga hilir, mulai dari budidaya hingga hilirisasi produk. Petani nantinya didampingi untuk mengolah pisang menjadi tepung, keripik, sale, hingga pakan ternak agar nilai tambah meningkat,” kata Saipullah.

Ia juga menekankan pentingnya peningkatan sumber daya manusia (SDM) melalui keterlibatan tim teknis dari organisasi perangkat daerah (OPD) agar mampu mentransfer pengetahuan kepada petani.

“Kami berharap ini menjadi program unggulan daerah yang dapat memberikan lompatan ekonomi dan dapat ditampilkan di tingkat regional maupun nasional,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan UMA Prof. Retno Astuti mengatakan kerja sama tersebut sejalan dengan tridarma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Menurut dia, program ini diharapkan memberi manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya petani, serta menjadi langkah awal pengembangan kawasan agro-edukasi berbasis pisang di Mandailing Natal.

“Kami berterima kasih atas dukungan Pemkab Madina yang telah memberikan kesempatan, lokasi, dan dukungan untuk pelaksanaan program ini,” kata Retno.

Kepala Dinas Pertanian Madina Taufik Zulhandra Ritonga menjelaskan, kerja sama ini berangkat dari inisiatif pemerintah daerah untuk mengembalikan pisang kepok sebagai komoditas unggulan seperti pada masa lalu.

Ia menyebutkan, dalam dua dekade terakhir produksi pisang kepok di daerah tersebut mengalami penurunan akibat serangan hama dan penyakit tanaman.

“Karena itu, kami menggandeng akademisi untuk mendapatkan solusi berbasis penelitian yang dapat diterapkan di lapangan,” katanya.

Ruang lingkup kerja sama ini mencakup pendampingan teknis dari pihak UMA, dengan fokus awal pada pisang kepok dan berpotensi dikembangkan ke jenis pisang lainnya yang memiliki nilai ekonomi.

Usai penandatanganan, tim akademisi UMA yang dipimpin Prof. Zulkarnain Lubis memaparkan hasil identifikasi awal kondisi tanah. Penelitian lanjutan akan dilakukan di laboratorium sebagai dasar rekomendasi teknis bagi pelaksanaan program tersebut.



Pewarta: Holik
Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARA 2026