Tapanuli Utara (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika bekerjasama dengan PerumJasa Tirta I serta PT Indonesia Asahan Aluminium melaksanakan operasi modifikasi cuaca demi meningkatkan ketinggian permukaan air Danau Toba.

"Kami BMKG bersama PJTI dan PT Inalum melaksanakan operasi modifikasi cuaca untuk meningkatkan tinggi air permukaan Danau Toba yang saat ini berada di level 903,00 mdpl," ungkap Direktur Tata Kelola Modifikasi Cuaca BMKG, Edison, di Stasiun Meteorologi Silangit, Kamis (9/4).

Pelaksanaan operasi didasarkan pada prediksi musim yang telah dirilis BMKG, dan dinilai efektif untuk dilakukan pada masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau dengan kondisi cuaca yang tidak stabil saat ini, yaitu pada bulan April 2026, yang sangat memungkinkan untuk dilakukan OMC sebagai langkah preventif untuk mengoptimalkan potensi curah hujan dan menjaga cadangan air menjelang musim kemarau.

Selain itu, potensi uap air yang masih tinggi dengan kondisi kelembapan di setiap lapisan atmosfer berkisar antara 70-100  persen, juga menjadi alasan mendasar yang memungkinkan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca.

"Operasi modifikasi cuaca ini tidak hanya sebatas upaya mitigasi bencana hidrometeorologi yang dilakukan dengan adanya bencana di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumut, dan Sumbar. Namun, saat ini, kita memiliki era baru melalui peran BMKG untuk modifikasi cuaca agar proses ketahanan pangan, energi, dan air terus terjaga dengan baik," jelasnya.

Operasi direncanakan berlangsung selama 25 hari dengan pengawasan ketat dari tim ahli meteorologi, hidrologi, dan lingkungan.

Pihak BMKG dan PJTI juga akan melakukan evaluasi atas pelaksanaan OMC dengan tetap melakukan analisa cuaca yang melibatkan dua unit pos meteorologi terdekat agar target pelaksanaan operasi mampu terealisasi.

Senada, Gede Santika, Kepala Sub Divisi Pengusahaan Wilayah Sungai Toba Asahan PJT1 juga menjelaskan, bahwa target pencapaian operasi akan diupayakan untuk kenaikan elevasi ketinggian air permukaan air Danau Toba.

Fikri, staf bagian teknis BMKG juga menjelaskan bahwa keberhasilan pelaksanaan operasi sangat diyakini realisasinya mengingat pelaksanaan program serupa yang telah diterapkan di wilayah lainnya mampu meningkatkan 30-50 persen curah hujan sesuai target operasi.

"Secara teknis, operasi dilaksanakan dengan menggunakan bahan semai higroskopis berupa bubuk/powder NaCl dan CaO. Di mana, CaO digunakan untuk mengarahkan pertumbuhan awan agar lebih fokus di area tangkapan air sementara NaCl mempercepat proses terjadinya hujan," jelasnya.



Pewarta: Rinto Aritonang
Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARA 2026