Tapanuli Utara (ANTARA) - Semangat dan harapan terpancar dari wajah puluhan anak muda yang berkumpul di Silangit, Kecamatan Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara, Senin (11/5). Hari itu menjadi momentum penting bagi mereka yang tengah menapaki jalan menuju masa depan baru melalui program magang dan kerja di Jepang.

Di tengah suasana penuh kebanggaan itu, Wakil Bupati Tapanuli Utara, Deni Parlindungan Lumbantoruan, meresmikan Sending Organization (SO) LPK Mori Centre sekaligus melepas secara simbolis peserta magang dan pekerja mandiri ke Jepang. Momen tersebut juga dirangkaikan dengan pengukuhan 162 peserta didik baru tahun 2026.

Peresmian tersebut menjadi tonggak baru bagi lembaga pelatihan kerja yang didirikan dengan semangat kuat untuk membuka jalan bagi generasi muda daerah agar mampu bersaing di dunia kerja internasional.

Sebanyak 44 peserta LPK SO Mori Centre akan diberangkatkan ke Jepang melalui izin Sending Organization yang diterbitkan Kementerian Ketenagakerjaan RI pada 6 November 2025. Para peserta itu merupakan anak-anak muda yang telah menjalani proses pelatihan, pembelajaran bahasa, serta pembinaan mental dan kedisiplinan.

Di balik keberangkatan mereka, ada cerita panjang tentang kerja keras, mimpi, dan harapan.

Direktur Utama LPK Mori Centre SO, Rijen Alam Sinurat, menyampaikan bahwa keberangkatan para peserta bukan sekadar angka statistik, tetapi perjalanan hidup yang penuh perjuangan.

"Di balik angka itu ada cerita orang tua yang bekerja keras. Ada cerita anak muda yang belajar sampai malam. Ada cerita tentang mimpi untuk mengubah kehidupan keluarga menjadi lebih baik," ujarnya dengan penuh haru.

Bagi Rijen, LPK Mori Centre bukan hanya lembaga pelatihan kerja. Lembaga ini lahir dari keyakinan bahwa generasi muda Tapanuli Utara memiliki potensi besar untuk berkembang jika diberi kesempatan, bimbingan, dan arah yang tepat.

Melalui pelatihan yang terstruktur dan legalitas resmi sebagai Sending Organization, Mori Centre ingin menjadi jembatan yang menghubungkan mimpi anak-anak muda desa dengan peluang kerja di dunia internasional.

Pada Mei 2026, sebanyak 14 peserta dijadwalkan berangkat sebagai gelombang pertama setelah menyelesaikan seluruh tahapan pelatihan. Sementara itu, 30 peserta lainnya akan menyusul pada Juni 2026.

Bagi Rijen, setiap peserta yang berhasil berangkat adalah bukti bahwa mimpi bisa diwujudkan melalui kerja keras dan komitmen.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara, BP3MI Sumatera Utara, Dinas Ketenagakerjaan, para mitra, instruktur, serta orang tua peserta didik yang terus memberikan dukungan.

"Dukungan ini menjadi kekuatan bagi kami untuk terus berkembang dan memberikan yang terbaik bagi generasi muda. Semoga LPK SO Mori dapat terus menjadi jembatan harapan bagi anak-anak muda yang ingin meraih masa depan yang lebih baik," katanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Tapanuli Utara menegaskan bahwa kehadiran LPK Mori Centre SO merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia daerah.

Menurutnya, kesempatan bekerja di Jepang bukan hanya memberikan pengalaman kerja internasional, tetapi juga membentuk karakter disiplin, kejujuran, dan profesionalisme.

Ia berpesan kepada para peserta yang akan berangkat agar menjaga nama baik Indonesia, khususnya Kabupaten Tapanuli Utara.

"Bekerjalah dengan disiplin, jujur, rajin, dan bertanggung jawab. Tunjukkan bahwa generasi muda Tapanuli Utara mampu bersaing dan dipercaya di tingkat internasional," pesannya.

Di tengah semangat itu, para peserta yang akan berangkat tampak membawa harapan besar, bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk keluarga dan daerah asal.

Bagi LPK SO Mori, perjalanan ini baru saja dimulai. Namun satu hal yang pasti, dari Silangit, mimpi-mimpi anak muda Tapanuli Utara kini mulai terbang lebih jauh, menembus batas negara, menuju masa depan yang lebih cemerlang.



Pewarta: Rinto Aritonang
Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARA 2026