Madina (ANTARA) - Konferensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) ke-V tahun 2025 yang digelar di Hotel Rindang, Kelurahan Dalan Lidang, Kecamatan Panyabungan, Selasa (23/12), menandai babak baru dinamika organisasi wartawan di daerah tersebut. Untuk pertama kalinya, konferensi tidak lagi digelar secara aklamasi, melainkan menghadirkan dua kandidat ketua yang dipilih melalui mekanisme pemungutan suara.
Konferensi PWI Madina ke-V secara resmi dibuka oleh Bupati Mandailing Natal, Saipullah Nasution. Bupati menegaskan pentingnya peran pers sebagai mitra strategis pemerintah sekaligus pilar kontrol sosial dalam pembangunan daerah.
“Pemerintah daerah harus dikontrol. Kalau tidak dikontrol, kita tidak tahu apakah kebijakan yang dibuat sudah sesuai aturan atau kehendak masyarakat,” ujar Saipullah di hadapan peserta konferensi.
Ia menekankan bahwa kebebasan pers sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers harus dijaga, disertai dengan pemahaman terminologi dan literasi hukum agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Dalam sambutannya, Bupati Madina juga menyinggung pentingnya kepercayaan publik terhadap proses penegakan hukum, termasuk dalam penanganan kasus narkotika yang belakangan memicu dinamika sosial di wilayah Madina.
Sementara itu, Ketua PWI Sumatera Utara, Parianda Putra Sinik, dalam arahannya menegaskan bahwa PWI memiliki fungsi kontrol terhadap kekuasaan dan hal tersebut merupakan bagian dari demokrasi yang sehat.
“Kalau PWI melakukan kontrol, jangan dimaknai sebagai permusuhan. Itu justru bentuk tanggung jawab pers,” kata Parianda dengan gaya santai namun tegas.
Parianda juga menekankan bahwa PWI Sumut bersikap netral dalam kontestasi pemilihan Ketua PWI Madina. Ia memastikan tidak ada intervensi terhadap proses pemilihan dan menegaskan bahwa siapa pun yang terpilih nantinya harus kembali bersatu demi menjaga soliditas organisasi.
“Kami tidak akan memenangkan yang kalah dan tidak akan mengalahkan yang menang. Setelah konferensi selesai, semua harus kembali bersatu,” tegasnya.
Pada Konferensi PWI Madina ke-V ini, terdapat dua kandidat ketua, yakni Zamharir Rangkuti dan Ali Anhar Harahap. Pemilihan dilakukan melalui mekanisme pemungutan suara dengan jumlah 11 pemilih yang memiliki hak suara.
Selama ini, kepemimpinan PWI Madina kerap ditentukan secara aklamasi. Kehadiran dua kandidat pada konferensi kali ini dinilai sebagai wujud kedewasaan organisasi dan semangat demokrasi di tubuh PWI Madina.
Konferensi PWI Madina ke-V diharapkan tidak hanya menghasilkan kepemimpinan baru, tetapi juga memperkuat peran pers sebagai mitra kritis, independen, dan profesional dalam mengawal pembangunan di Kabupaten Mandailing Natal.
