Medan (ANTARA) - Dalam perkembangan zaman yang makin mengedepankan digitalisasi dan teknologi informasi belakangan ini, masyarakat semakin mudah untuk mendapatkan informasi.
Praktik penyebaran informasi juga semakin beragam, bukan hanya instansi resmi dan media massa, namun juga masyarakat dengan memanfaatkan media sosial dan platform tertentu.
Semakin banyaknya pihak yang dapat menyebarkan informasi, menyebabkan keakuratan informasi semakin rawan, terutama setelah munculnya aplikasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) .
Teknologi AI menyebabkan seseorang dapat menyebarkan informasi tertentu seolah-olah berasal dari sebenarnya.
Namun fenomena itu justru menjadi peluang bagi The Paper, salah satu media massa yang berkantor di Shanghai, Tiongkok.
Dengan memanfaatkan teknologi juga, The Paper menjalankan fungsinya untuk membantu masyarakat guna menganalisa dan mengkaji informasi tertentu yang berpotensi mempengaruhi opini publik.
Menurut Wu Ting, Dewan Redaksi The Paper, keberadaan teknologi AI memiliki dua sisi mata pedang, karena bisa mendukung optimalisasi kinerja, sekaligus untuk membuat informasi palsu atau hoaks.

Dalam kesehariannya, The Paper memang menggunakan teknologi AI seperti menduplikasi wajah salah satu karyawan untuk membacakan berita yang ingin ditampilkan.
Namun teknologi AI juga digunakan untuk menganalisa dan mengkaji berita atau informasi tertentu untuk mengetahui kemungkinan adanya hoaks.
Jika ada foto atau video yang menimbulkan kehebohan, tim The Paper akan melakukan analisa dan kejutan untuk mengetahui keaslian, waktu produksi, pihak yang memproduksi dan kemungkinan lokasi penyebaran.
“Kita gunakan fotonya untuk klarifikasi, tahun berapa kejadian, siapa yang produksi dan melacak lokasi. Kalau hoaks, akan buat pemberitaan tentang itu dan faktanya gimana,” katanya.
Peran The Paper dalam menghasilkan berita akurat bukan hanya dengan memanfaatkan teknologi, melainkan juga menurunkan tim ke lokasi jika muncul informasi mengenai peristiwa tertentu.
Ia mencontohkan dengan penyebaran informasi belum lama ini mengenai adanya berita bahwa ada kapal yang terbalik dan tenggelam di perairan Shanghai akibat angin kencang.
“Ada video bohong di media tentang kapal yang terbalik, kami segera menurunkan tim, ternyata tidak ada (kapal yang tenggelam),” katanya.
Beralih ke siber
Sebelumnya, The Paper merupakan perusahaan media yang menghasilkan surat kabar dan menjadi salah satu media massa terbesar di Shanghai, bahkan di Tiongkok.
Namun mulai tahun 2016, The Paper beralih ke media siber dan menghasilkan berita berkisar 4.000 berita per hari dengan jumlah pembaca diatas 100 juta pembaca.
Dalam operasionalnya, The Paper banyak memberitakan tentang kebijakan dan langkah politik pemerintah Tiongkok, terutama pertumbuhan ekonomi dunia.
Salah satu tayangan prioritas The Paper adalah menampilkan berbagai potensi pariwisata di Tiongkok, baik situs bersejarah, pesona alam mau pun seni budaya yang ditampilkan 24 jam di jalur resmi media tersebut.
Pada tahun 2023, The Paper menurunkan tim ke Indonesia untuk meliput peluncuran Whoosh, kereta api cepat Jakarta-Bandung.
