Satu penyebab yaitu adanya bantuan sosial pemerintah untuk menanggulangi "stunting" berupa telur ayam dan daging ayam. Selain itu, permintaan di sana relatif tinggi menyusul perbaikan situasi ekonomi.
"Ada kenaikan harga di Jawa sehingga beberapa produsen di Sumut mengirimkan hasil produksinya ke sana. Itu membuat suplai di Sumut berkurang sehingga harganya naik," tutur Ridho.
Faktor ketiga adalah harga pakan yang tinggi. Bahan baku utama pakan, jagung, kini harganya rata-rata lebih dari harga acuan pemerintah untuk penjualan di konsumen yaitu Rp5.000 per kilogram. Penyusun pakan lainnya seperti kedelai juga mesti impor.
Untuk jagung, harganya disebut Ridho mahal akibat harga pupuk meroket.
"Itu dipengaruhi perang Ukraina dan Rusia," kata dia.
Untuk daging ayam, Ridho melanjutkan, penyebab kenaikannya hampir sama dengan telur.
KPPU Kanwil I sudah melakukan pemantauan daging ayam langsung ke pasar-pasar dan memastikan kenaikan harganya karena biaya produksi meningkat.
"Harga ditentukan dari tawar-menawar dengan peternak," ujar Ridho.
Harga daging ayam dan telur ayam di Sumatera Utara cenderung tinggi pada beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan data Sistem Harga Pangan Komoditas Utama Sumatera Utara (SiHarapanKu), Senin (11/6), harga telur ayam ras di Sumut berkisar Rp25.500 sampai Rp36.500 per kilogram.
Di hari yang sama, harga daging ayam ras di Sumut sekitar Rp28.000-Rp47.138 per kilogram.
Pemerintah, melalui Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 5 Tahun 2022 Tentang Harga Acuan Pembelian Di Tingkat Produsen dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen Komoditas Jagung, Telur Ayam Ras dan Daging Ayam Ras, menetapkan bahwa harga acuan penjualan di konsumen untuk telur ayam ras Rp27 ribu per kilogram dan daging ayam ras Rp36.750 per kilogram.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: KPPU: Kenaikan harga telur-daging ayam di Sumut tak terkait kartel