Madina (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina) bersama Universitas Medan Area (UMA) menyepakati pelaksanaan kunjungan lapangan ke lokasi demplot pengembangan pisang kepok sebagai tindak lanjut program pengembangan pisang berkelanjutan di daerah tersebut.

Kesepakatan itu dicapai dalam rapat teknis yang digelar di Kampus Pascasarjana Universitas Medan Area, Medan, Senin (13/4). Rapat dihadiri Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdakab Madina, Sahnan Pasaribu, bersama jajaran Dinas Pertanian Kabupaten Mandailing Natal.

Dari pihak UMA, hadir sejumlah akademisi, antara lain Prof Zulkarnain Lubis, Prof Suswati, Prof Retna Astuti, Prof Dadan Ramdan, dan Prof Siti Mardiana.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Mandailing Natal, Taufik Zulhandra Ritonga, menyampaikan bahwa dalam waktu dekat tim UMA akan turun langsung ke lapangan untuk meninjau lokasi demplot pisang kepok di wilayah Sipalangka.

“Selain kunjungan lapangan, juga akan dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pemkab Madina dan UMA sebagai penguatan kerja sama,” ujarnya.

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina) telah menggandeng Universitas Medan Area (UMA) dalam upaya mengembangkan budidaya pisang unggulan guna memperkuat sektor pertanian serta meningkatkan kesejahteraan petani.

Bupati Mandailing Natal, Saipullah Nasution, bersama Wakil Bupati Atika Azmi Utammi Nasution dan jajaran Dinas Pertanian, telah menggelar diskusi dengan para pakar UMA di Medan pada Januari lalu. Pertemuan tersebut membahas strategi pengembangan pisang berbasis teknologi pertanian modern.

Dalam kesempatan itu, Saipullah menyampaikan bahwa Kabupaten Mandailing Natal memiliki sejarah panjang sebagai salah satu sentra produksi pisang. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, produksi mengalami penurunan akibat berbagai kendala teknis, termasuk serangan penyakit tanaman.

“Kita ingin petani tidak hanya menanam, tetapi juga memahami secara ilmiah mulai dari pemilihan bibit unggul, pengelolaan lahan, hingga penanganan pascapanen. Pendampingan dari akademisi sangat dibutuhkan,” ujar Saipullah.

Sebagai langkah awal, Pemkab Madina telah menyiapkan lahan percontohan seluas lima hektare di Kecamatan Panyabungan Barat. Lahan tersebut akan difungsikan sebagai pusat pembibitan dan pelatihan petani dengan pendekatan praktik langsung (learning by doing) di bawah pendampingan tim ahli UMA.

Tim akademisi UMA juga memaparkan sejumlah varietas pisang bernilai ekonomi tinggi yang potensial dikembangkan, di antaranya pisang barangan, cavendish, kepok kuning, dan pisang mulyo.

Saipullah menambahkan, kerja sama tersebut tidak hanya mencakup aspek budidaya, tetapi juga pengembangan agribisnis, agroindustri, hingga potensi agrowisata berbasis komoditas pisang.

“Kita kawal dari hulu hingga hilir agar kejayaan pisang Madina bisa bangkit kembali dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” katanya.

Kolaborasi antara Pemkab Madina dan UMA ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam mendorong kebangkitan sektor pertanian berbasis komoditas unggulan daerah secara berkelanjutan.



Pewarta: Holik
Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARA 2026