Tapanuli Selatan (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) mencatat bencana banjir bandang dan tanah longsor telah berdampak pada 14 dari 15 kecamatan di wilayah tersebut, dengan ribuan rumah warga rusak hingga hanyut serta ribuan hektare sawah gagal panen.
Berdasarkan data laporan sementara, sekitar 2.000 rumah warga mengalami kerusakan kategori sedang hingga berat, terutama di wilayah Batang Toru dan Garoga yang juga terdampak longsor.
“Korban meninggal dunia tercatat sebanyak 86 orang, sementara sekitar 30 orang masih dilaporkan hilang oleh pihak keluarga dan masyarakat,” kata Bupati Tapsel Gus Irawan Pasaribu saat diwawancarai wartawan di sela penyerahan bantuan kemanusiaan di Sipirok, Minggu.
Selain permukiman, sektor pertanian juga terdampak signifikan. Pemerintah daerah mencatat lebih dari 2.500 hektare sawah rusak dan belum dapat langsung ditanami kembali karena membutuhkan proses normalisasi.
Akibat bencana tersebut, belasan ribu warga masih berada di lokasi pengungsian. Pemerintah daerah menilai kebutuhan mendesak tidak hanya pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga pembangunan kembali rumah warga serta pencarian sumber penghidupan baru.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Irawan menyampaikan apresiasi atas perhatian dan bantuan kemanusiaan yang diberikan Partai Hanura, khususnya dari Ketua Umum DPP Partai Hanura Oesman Sapta Oedang (OSO) melalui jajaran pengurus partai di daerah.
“Kehadiran Partai Hanura di tengah masyarakat sudah menjadi penghiburan bagi kami yang sedang berduka. Apalagi disertai dengan bantuan kemanusiaan. Ini menjadi awal untuk bersama-sama memikirkan rehabilitasi dan rekonstruksi Tapsel,” ujarnya.
Pemkab Tapsel berharap ke depan dapat terjalin kerja sama lebih lanjut dengan berbagai pihak, termasuk Partai Hanura, untuk membantu masyarakat memperoleh sumber penghidupan sementara sebelum lahan pertanian kembali normal.
Mewakili Ketua Umum DPP Partai Hanura OSO, Wakil Ketua Umum DPP Partai Hanura Lili Pintauli Siregar mengatakan bantuan yang disalurkan di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat memiliki total nilai sekitar Rp1,8 miliar dan diharapkan dapat meringankan beban para korban bencana.
