Tapanuli Utara (ANTARA) - Perum Jasa Tirta I (PJT I)-Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika bersama, dan PT INALUM menggelar operasi modifikasi cuaca di daerah tangkapan air Danau Toba, Sumatera Utara.
Vice President Regional II PJT I, M Luckmanul Chakim mengatakan, kegiatan operasi modifikasi cuaca merupakan langkah strategis untuk menjaga keseimbangan dan ketersediaan air ekosistem dan terutama memberikan suplai untuk pembangkit listrik serta pemanfaatan suplai kepada
irigasi pertanian dan industri yang ada di wilayah hilir.
"PJT I berkomitmen memastikan pengelolaan sumber daya air tetap optimal. Operasi modifikasi cuaca ini menjadi salah satu upaya penguatan agar air Danau Toba tetap berada pada elevasi yang aman," ujar Vice President Regional II PJT I, M Luckmanul Chakim bersama Direktur Operasi Modifikasi Cuaca, Budi Harsoyo, di Bandara Silangit, Jumat (21/11).
Direktur Operasi Modifikasi Cuaca, Budi Harsoyo juga menerangkan, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjaga ketersediaan air bagi Danau Toba dan sebagai bentuk nyata kegiatan pengelolaan sumber daya air serta upaya menjaga ketersediaan air dan stabilitas ekosistem di kawasan Danau Toba dan sungai Asahan.
Budi Harsoyo menjelaskan, operasi modifikasi cuaca di daerah tangkapan air Danau Toba, dilaksanakan selama 15 hari ke depan.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai respon terhadap kondisi iklim dan curah hujan yang menurun dalam beberapa bulan terakhir.
"Kondisi itu berdampak pada ketersediaan suplai air ke Danau Toba serta pengoperasian 3 bendungan Cascade, yaitu bendungan Siruar, Siguragura dan Tangga atau berada persis di sungai Asahan bagian Hulu yang menjadi bagian penting bagi pasokan energi, air minum PDAM, industri dan aktivitas masyarakat sekitar," sebut Budi.
Kata Budi Harsoyo, hal tersebut juga dalam rangka mendukung kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air sebagai salah satu asta cita Presiden Republik.
Pelaksanaan operasi modifikasi cuaca, lanjut Budi Harsoyo, dukungan teknis dari BMKG berperan dalam pemantauan atmosfer dan pemilihan awan potensial untuk disemai.

Tim BMKG telah melakukan analisis cuaca secara intensif, baik sebelum pelaksanaan operasi maupun pada saat pelaksanaan nantinya.
"Kami memastikan proses penyemaian dilakukan secara presisi, sesuai kondisi meteorologis harian di wilayah Danau Toba. Operasi dilakukan melalui penyemaian garam (NaCl) ke awan potensial menggunakan pesawat sewaan
komersial atau teknis yang disiapkan oleh penyelenggara," sebut Budi Harsoyo.
Selama kegiatan, tutur Budi Harsoyo, pemantauan kondisi atmosfer dilakukan secara real time oleh BMKG dan ada Posko koordinasi antara BMKG, PJT I dan INALUM untuk pelaksanaan harian dan evaluasi efektivitas.
"Dampak yang diharapkan melalui OMC di DTA Danau Toba, tentunya, kolaborasi tiga lembaga tersebut, menargetkann peningkatan curah hujan di wilayah tangkapan air utama. Stabilitas elevasi Danau Toba untuk kebutuhan air baku, Pariwisata dan energi. Penguatan ketahanan sumber daya air di kawasan Danau Toba dan sungai Asahan," imbuh Budi.
