Medan (ANTARA) - PT Hutama Karya (Persero) merampungkan pemasangan dua Jembatan Bailey pada Jalan Lintas Tengah ruas Kutacane–Blangkejeren, Kabupaten Aceh Tenggara, sebagai upaya memulihkan akses transportasi yang terdampak bencana. Infrastruktur darurat tersebut terdiri atas Jembatan Bailey Mengkudu sepanjang 36 meter dan Jembatan Bailey Penanggalan sepanjang 48 meter, yang kini kembali dapat dilintasi kendaraan logistik maupun warga.

Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah, mengatakan pemasangan jembatan darurat ini merupakan langkah percepatan agar konektivitas dan pergerakan bantuan tidak terhambat. 

“Prioritas kami adalah membuka kembali akses yang terputus sehingga mobilitas warga, distribusi logistik, hingga penanganan darurat bisa berjalan tanpa kendala. Dengan berfungsinya dua titik ini, jalur Lintas Tengah kembali tersambung dan diharapkan mempercepat pemulihan pascabencana,” ujarnya melalui siaran pers yang diterima di Medan Rabu (31/12).

Jembatan Mengkudu berada di Desa Katimaju, Kecamatan Darul Hasanah, sedangkan Jembatan Penanggalan berada di Desa Lawe Penanggalan, Kecamatan Ketambe. 

Keduanya menurut dia menjadi jalur vital bagi mobilitas harian masyarakat dan arus distribusi bantuan. 

Lebih lanjut dia menjelaskan Jembatan Mengkudu mulai berfungsi sejak Selasa (23/12), dan Jembatan Penanggalan menyusul pada Minggu (28/12) setelah proses pemasangan masing-masing memakan waktu 15 dan 6 hari.

Secara teknis, kedua jembatan memiliki lebar efektif 3,7 meter dengan daya dukung beban hingga 40 ton sehingga dapat dilalui kendaraan angkutan berat. 

Pemasangan dilakukan di atas jalur aliran air pegunungan menuju Sungai Alas, menggantikan akses sementara yang sebelumnya digunakan warga setelah jembatan lama terputus akibat bencana.

Selain pemasangan Bailey, pihaknya juga melakukan normalisasi sungai, pembangunan tanggul, pembukaan jalur alternatif, serta pembersihan material lumpur dan longsoran di sejumlah titik permukiman untuk memperlancar konektivitas daerah terdampak. 

Sejumlah alat berat dan personel diterjunkan dengan pola kerja 12 jam guna memastikan percepatan.

 



Pewarta: Evalisa Siregar
Editor : Akung

COPYRIGHT © ANTARA 2026