Madina (ANTARA) - Sanggar Samisara menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema "Revitalisasi Marturi, Warisan Sastra Lisan Mandailing" di SD Negeri 019 Bonan Dolok, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal, Senin (21/10).
Kegiatan ini dihadiri oleh para guru Muatan Lokal dari jenjang SD hingga SMA, serta sejumlah tokoh pendidikan dan kebudayaan di wilayah tersebut. FGD menjadi bagian dari program pelestarian budaya yang digagas Sanggar Samisara bekerja sama dengan BPK Wilayah II Medan.
Ketua Sanggar Samisara, Abdul Holik Nasution menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal dalam penyusunan naskah akademik untuk mengusulkan Marturi sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) ke Kementerian Kebudayaan.
Keynote speaker Ludfan Nasution menekankan pentingnya revitalisasi Marturi di tengah perubahan sosial dan teknologi yang semakin pesat.
"Marturi semestinya tidak sebatas pementasan, tetapi harus bisa menjadi wadah pembentukan perilaku anak,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Parjuangan Panggabean yang mewakili institusi pendidikan dalam pembukaan acara tersebut.
"Marturi sepatutnya bisa dijadikan media pembelajaran bagi peserta didik, bukan hanya sekadar warisan tradisi,” katanya.
FGD dipandu oleh Askolani Nasution selaku ketua pengarah. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari prosedur penyusunan naskah akademik yang komprehensif.
"Naskah ini nantinya akan menjadi dokumen pendukung untuk memperkuat pengajuan Marturi sebagai WBTB dari Mandailing ke Kementerian Kebudayaan," jelasnya
Marturi merupakan salah satu bentuk sastra lisan khas Mandailing yang berisi nilai-nilai moral, petuah, serta sejarah lokal yang disampaikan secara naratif dalam bentuk pertunjukan. Upaya pelestarian ini dinilai penting agar generasi muda tetap terhubung dengan akar budaya daerahnya.
Pewarta: HolikEditor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026