Medan (ANTARA) - Rumah panggung berukuran 4x20 meter di Kampung Berseri Astra (KBA) Jorong Tabek, Kecamatan Hilirangumanti, Talangbabungo, Kabupaten Solok, Sumatra Barat, adalah tempat lahir Rumah Pintar KBA Jorong Tabek. Hasil gotong royong Kastri Satra sebagai ketua kampung dan warganya di 2019.
Sekarang, rumah pintar menjadi simbol desa wisata budaya-edukasi, pusat inspirasi, kemudian bertransformasi menjadi pusat laboratorium ekonomi sirkuler. Menghasilkan beragam inisiatif pengelolaan ekonomi yang fokus pada pemanfaatan kembali sumber daya alam serta pengurangan limbah dan polusi.
Konsep sirkuler diwujudkan melalui rantai kegiatan ekonomi yang mengintegrasikan proses produksi gula semut berbahan baku nira pohon enau. Limbah produksi gula semut dan sampah organik diolah menjadi pakan maggot.
Maggot yang telah berkembang dimanfaatkan sebagai pakan ikan. Limbah nonorganik seperti botol air mineral, bungkus makanan ringan dan lainnya dikelola bank sampah.
"Kontribusi setiap warga dihitung dalam bentuk Rupiah, dalam periode tertentu dapat diuangkan kembali," kata Kastri, Jumat (15/8).
Rumah pintar, lanjut dia, punya perpustakaan budaya dan ruang berbagi konsep ekonomi kerakyatan.
Tempat diskusi dan titik kumpul 90 penggiat ekonomi setempat, sebagian besar ibu rumah tangga untuk menggali dan menguji ide model ekonomi sirkuler dengan penggiat sosial. Juga sebagai pusat informasi 45 homestay untuk wisatawan domestik yang ingin berkunjung.
Pelancong yang datang bisa melihat nira pohon enau yang tumbuh di ketinggian >1.500 mdpl, suhu 18-24°C, disadap dengan teknik pemukulan pangkal bunga untuk merangsang aliran nira ke bambu
penampung, lalu diolah menjadi bubuk gula semut.
Rumah produksi dijalankan 20 Kepala Keluarga. Produksi harian sekitar 10-20 kilogram, mampu mencapai 50 kilogram per hari kalau akses pasar memadai. Produksi bulanan optimal 1.500 kilogram. Kadar gula tinggi dengan tekstur lebih halus.
"Pemanasan nira melalui oven yang menggunakan bahan bakar gas. Proses produksi saat ini cukup terbatas, tapi dapat ditingkatkan dengan pelaung pasar yang lebih menjanjikan," ucap Kastri.
Rumah magot dan bank sampah yang beroperasi sejak 2021, mengelola limbah non organic dan organik dari proses produksi gula semut dan gula tebu.
Hasilnya sebagian dikembalikan ke warga dalam bentuk buku tabungan, sebagian lagi dikumpulkan untuk mendukung kegiatan ekonomi lainnya. Termasuk membangun fasilitas,sarana hiburan dan tempat rekreasi mini.
Pengunjung dari luar daerah dikenakan biaya masuk untuk penikmat olahraga pancing ikan. Rata-rata penghasilan bersih kolam ikan sekitar Rp5 juta per bulan, sebagian digunakan untuk mendukung ekonomi masyarakat kurang mampu sektor kesehatan dan pendidikan. Mampu menambah pembiayaan beasiswa 20 anak muda berprestasi di Jepang.
"Ekonomi kerakyatan daerah yang sebelumnya cukup terisolir kini bergerak lebih baik. Homestay siap menerima kunjungan wisatawan. Ekonomi sirkuler menjadi pendorong penguatan kemampuan keuangan masyarakat Jorong Tabek," kata Kastri lagi.
Kebakaran besar menarik Astra untuk mengulurkan tangan. Inilah awal perkenalan, puncaknya pada 2016, Jorong Tabek ditetapkan sebagai kampung binaan Astra. Rumah Pintar KBA Jorong Tabek berdiri dari asupan dana Corporate Social Responsibility (CSR).
Kastri bilang, perlu waktu untuk meyakinkan masyarakat desa yang ragu dengan pendampingan. Masyarakat takut memberi dan berharap yang belum tentu bisa diberikan. "Waktu itu, mereka kurang tahu saja,” ujarnya.
