Tapanuli Utara (ANTARA) - Program makan bergizi gratis (MBG) besutan Presiden Prabowo Subianto untuk Kabupaten Tapanuli Utara yang diinisiasi Yayasan Bisukma dan digawangi founder Erikson Sianipar telah terlaksana dalam triwulan terakhir sejak diluncurkan pada 19 Mei 2025 lalu.
Selama pelaksanaan banyak pembenahan yang dilakukan SPPG (satuan pelayanan pemenuhan gizi) atau secara awam dikenal "dapur MBG" di bawah kendali Badan Gizi Nasional di jalan TD Pardede Panganan Lombu, Tarutung.
Pembenahan hingga kreasi makanan sesuai standar pemenuhan gizi secara nasional kepada sasaran 3.500 pelajar di Taput tetap tersaji dengan baik.
Founder yayasan Bisukma Erikson Sianipar yang menjadi inisiasi pelaksanaan program MBG di Taput saat ditemui awak media , Kamis (14/8/2025) mengatakan proses pengolahan, bahan baku lokal mengikuti standar BGN.
Politisi Partai Gerindra tersebut mengungkapkan SPPG terbentuk melalui pengawasan ketat dari BGN hingga peralatan makanan kepada sasaran (pelajar).
Sebagai mitra SPPG, Ketua Partai Gerindra Taput tersebut mengungkapkan inisiasi tersebut sebagai bentuk sahutan atas instruksi Presiden Prabowo agar kader terlibat mensukseskan MBG didaerahnya.
Erikson menyebut di awal pelaksanaan, SPPG tetap menerapkan standarisasi tinggi dalam penyajian makanan kepada anak-anak.
"Satu unit SPPG terdapat tiga orang pengawas dari BGN, tiga ahli gizi hingga akuntan. Jadi satu SPPG mampu menyerap 50 tenaga kerja. Artinya ada perputaran ekonomi serta penyerapan tenaga kerja di daerah masing-masing yang SPPGnya terbentuk," ujarnya.
Dalam penyajian makanan kepada anak-anak, Erikson menyadari mungkin kontra dengan selera anak-anak yang menjadi sasaran akan tetapi sesuai juknis makanan yang tersaji harus memenuhi standar gizi dari BGN.
"Dari tempat makanan (omprengan) hingga bahan baku, peralatan memasak , bahkan mobil pembawa MBG harus standar BGN. Kenapa, karena kita tidak ingin MBG yang disajikan ke anak-anak tetap terbaik, memang tidak enak dilidah akan tetapi penuhi gizi yang mampu menstimulasi IQ ," paparnya.
Seraya diajak berkeliling di dapur MBG yang wajib memenuhi standar kesehatan tinggi, Erikson menyebut jika dihitung dari tempat maupun peralatan kalau dari sisi bisnis mungkin butuh waktu break even point (BEP).
"Saya tidak melihat sisi bisnis, untung rugi akan tetapi manfaatnya kepada anak-anak di Taput , 16 tahun kehadiran Bisukma bisa memberikan kontribusi guna membangun dan mendukung Asta Cita Presiden Prabowo salah satunya meningkatkan sumber daya manusia," imbuhnya.
Erikson bahkan menyebut MBG saat ini bisa mengubah peradaban bahkan kebiasaan anak Indonesia secara lambat laun mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi bukan sekedar mengenyangkan.
Syah Menan Lubis kepala SPPG menyebutkan pola hingga mekanisme kerja tetap merujuk standar BGN bahkan secara ketat diawasi BPKP, instansi Statistik hingga Kejaksaan.
"Saya ditunjuk sebagai kepala oleh BGN melalui pelatihan dengan pendidikan selama 7 bulan, dengan mengantongi 20 sertifikat. Saya ditempatkan Nopember namun hingga Desember tahun lalu belum ada sinyalemen dapur MBG. Untunglah ada Pak Erikson Sianipar yang siap menginisiasi dan melaksanakan melalui yayasan Bisukma," ungkapnya.
"Kita mungkin banyak disoroti kenapa makanan dingin, tapi itu harus disajikan seperti itu karena bila dipacking ke omprengan (tempat makan) dalam panas akan berpotensi basi dan diperalatan makan itu tidak boleh dipacking dalam kondisi seperti itu," paparnya.
Terkait soal kekhawatiran makanan halal atau tidak halal, Syah Menan mengatakan pengolahan makanan bergizi nasional standar nasional bukan standar daerah.
"Pemotongan hewan seperti Ayam dari penyedia bahan baku tetap mengikuti kaidah agama Islam. Dan kami tetap berbenah dan berkreasi bagaimana kedepannya makanan bergizi itu bisa tersaji dan mengundang selera anak melalui kuisoner kepada siswa dan guru," tukasnya.
Pewarta: Rinto AritonangEditor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026