Medan, 30/5 (Antara)  - Gubernur Sumut, H Tengku Erry Nuradi berharap Sumut memiliki model untuk perkebunan kelapa sawit berkelanjutan yang bisa diterapkan bagi petani swadaya di provinsi itu.

"Lokakarya Mencari Model Pemberdayaan dan Peremajaan Perkebunan Untuk Sawit Indonesia Yang Berkelanjutan yang diselenggarakan  PERHEPI (Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia), CSPO  dan USU (Universitas Sumatera Utara)   diharapkan bisa merumuskan model yang tepat untuk pengembangan kelapa sawit berkelanjutan bagi para petani di Sumut," katanya di Medan, Sabtu lalu.

Lokakarya itu menampilkan perusahaan Asian Agri sebagai narasumber dalam berbagi ilmu tentang sawit berkelanjutan yang sudah dijalankan perusahaan itu.

Sebagai pembicara dari Asian Agri menampilkan Head Smallholder Asian Agri, Pengarapen Gurusinga yang berbagi pengalaman tentang pembinaan kepada petani untuk mewujudkan sawit berkelanjutan.

Lokakarya yang dibuka oleh Direktur BPDPS Bayu Krinamurthi itu juga dihadiri oleh Kadis Perkebunan Sumut Herawati, jajaran pengurus PERHEPI,  civitas akademika USU dan lainnya.

Menurut Erry, seminar itu harus dijadikan momentum untuk mencari model pengembangan kelapa sawit berkelanjutan, mengingat saat ini sebagian besar atau sekitar 200.000 hektare lahan sawit milik petani memasuki masa peremajaan atau replanting.

Dengan replanting diharapkan tanaman sawit khususnya milik petani bisa memenuhi standar nasional dan internasional yang membuat hasil sawit daerah Sumut semakin diakui untuk mempertahankan predikat atau julukan Sumut sebagai kiblat kelapa sawit Indonesia.

"Saya berharap instansi terkait, assosiasi, dan perusahaan untuk selanjutnya bisa bersinergi mewujudkan kelapa sawit berkelanjutan di Sumuy," katanya.

Sementara itu Head Smallholder Asian Agri, Pengarapen Gurusinga dalam paparannya yang berjudul  â€œProspek, Tantangan dan Kunci Keberhasilan Sawit Berkelanjutan” menyebutkan, prospek industri sawit sangat besar karena bertumbuhnya jumlah penduduk serta kebutuhan akan minyak sawit serta turunanya  menjadi substitusi  berbagai produk akan semakin besar.

Asian Agri melalui unit usahanya dan petani binaannya telah berhasil  meraih sertifikat RSPO  (Roundtable on Sustainable Palm Oil) dan saat ini dalam proses sertifikasi ISPO bagi petani swadaya binaannya, yang akan menjadi petani swadaya bersertifikasi ISPO pertama di Indonesia. 

Keberhasilan tersebut menunjukkan keseriusan Asian Agri  dalam mewujudkan budi daya sawit berkelanjutan. 

Menurut Pengarapen Gurusinga, untuk berhasilnya  perkebunan sawit berkelanjutan banyak hal yang perlu diperhatikan. 

Mulai dari pemilihan bibit unggul, penguatan kelompok, pemahaman agronomi dan lainnya/

"Salah satu yang menunjang keberhasilan Asian Agri adalah melakukan pendampingan bagi petani binaanya, mulai dari pemahaman tentang pentingnya penggunaan bibit unggul, pemahaman agronomi tanaman, penguatan kelompok dan sebagainya," katanya.

Dengan adanya pendampingan,  maka produksi kebun petani dapat dipastikan akan mengalami  peningkatan. 

Ketua KUD Jaya Makmur, Rustamari, membenarkan bahwa  anggotanya selama ini mendapatkan pendampingan dari Asian Agri. 

"Adanya pedampingan sangat mendukung peningkatan produktivitas kebun petani, "katanya.

Dengan pendampingan Asian Agri,  petani KUD  Jaya Makmur  juga menjadi peduli akan lingkungan. 

"Kami  sudah berhasil mendapatkan sertifikasi RSPO dan ISCC (International  Sertification On Credit Carbon) yang merupakan salah satu bukti bahwa paran petaninya sudah menjalankan kebun sawit secara berkelanjutan," ujarnya.



Pewarta: Evalisa Siregar
Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARA 2026