Tapanuli Selatan (ANTARA) - Senyum Yanti (45) tampak menyimpan kekhawatiran. Di tengah hamparan sawah yang pernah menjadi sumber utama penghidupan keluarganya, perempuan asal Desa Bange, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara itu kini harus menghadapi kenyataan pahit setelah banjir bandang menerjang wilayahnya pada 25 November 2025.

Yanti merupakan petani sekaligus salah satu penopang ekonomi keluarga. Bersama suaminya, ia turut membantu menghidupi lima anak yang masih menempuh pendidikan, mulai dari sekolah dasar, SMP hingga SMA.

Sebelum bencana, Yanti memiliki lahan sawah seluas sekitar 0,5 hektare dengan indeks pertanaman dua kali dalam setahun. Setiap musim panen, lahan tersebut mampu menghasilkan sekitar 3,5 ton gabah kering.

Bila di estimasikan dengan harga gabah dikisaran Rp7.000 per kilogram, hasil panen itu sebelumnya dapat memberikan pendapatan sekitar Rp24,5 juta setiap musim panen.

Namun, banjir bandang mengubah semuanya. Sawah miliknya porak-poranda dihantam material lumpur, pasir dan bebatuan. Dari semula 0,5 hektare, lahan yang kini masih dapat ditanami hanya sekitar 0,1 hektare.

"Setelah banjir, sawah kami tinggal sedikit. Banyak yang tertutup pasir dan lumpur sehingga tidak bisa lagi ditanami seperti dulu," kata Yanti.

Kondisi tersebut membuat pendapatan keluarga ikut anjlok. Hasil panen dari lahan yang tersisa kini lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. 

Keinginan menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi pun semakin berat karena sumber pendapatan dari sawah tidak lagi mencukupi.

Untuk bertahan, Yanti dan keluarganya mulai mencari sumber penghasilan lain dengan membuka lahan untuk menanam palawija dan tanaman hortikultura. 

Upaya itu dilakukan sebagai alternatif karena sawah yang tertimbun material banjir dinilai belum mampu kembali menjadi sumber penghidupan seperti sebelum bencana.

Yanti berharap ada perhatian dan upaya pemulihan terhadap lahan pertanian yang rusak, terutama pembersihan sedimentasi yang menutup areal persawahan.
 
Menurutnya, tanpa pemulihan lahan, petani akan semakin sulit mengembalikan produktivitas pertanian.

Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Batu Godang Sayur Matinggi, Takdir Ali Syabana, kepada Antara mengatakan kondisi yang dialami Yanti merupakan gambaran dari persoalan yang dihadapi sejumlah petani lainnya di wilayah kerjanya.

"Masih banyak petani lain yang mengalami kondisi serupa, seperti di Desa Tolang Jae, Tolang Julu dan Lumban Huayan," katanya.

Menurut Takdir, sejumlah areal persawahan di wilayah tersebut masih tertutup material lumpur, pasir dan bebatuan yang terbawa arus banjir bandang. 

Kondisi itu membuat sebagian lahan belum dapat diusahakan kembali untuk tanaman padi.

Bagi Yanti dan petani lainnya, pemulihan lahan bukan sekadar persoalan mengembalikan areal persawahan. 

Lebih dari itu, pemulihan menjadi harapan untuk mengembalikan sumber penghidupan keluarga yang selama ini bergantung pada sektor pertanian.



Pewarta: Kodir Pohan
Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARA 2026