Medan, 17/9 (Antara) - Wakil Ketua Sementara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sumatera Utara Budiman Pardamean Nadapdap memulai karir politiknya di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dari desa.
"Sejak tahun 1987, sudah di struktur partai, tingkat desa," kata Budiman di Medan, Rabu.
Mulai 1987, Budiman sudah menjadi pengurus tingkat ranting PDI yang kala itu masih bernama Badan Koordinator Desa (Bankordes) di Patumbak, Kabupaten Deliserdang.
Setelah itu, ia "naik peringkat" menjadi pengurus Badan Koordinator Kecamatan (Bankorcam) PDI pada 1992 hingga 1997.
Budiman aktif dalam gerakan politik yang dilaksanakan PDI, termasuk menolak Pemilu 1997 yang akhirnya berhasil dengan bergulirnya reformasi dan berlangsungnya Pemilu tahun 1999.
Karir politiknya meningkat sejak 1997 dengan dipercaya menjadi Bendahara PDI Perjuangan Sumut sejak 1997 hingga 2002 ketika parpol tersebutdiketuai Syahrul Matondang.
"Jadi, dari tahun 1987 sampai sekarang tetap menjadi pengurus," kata pria kelahiran Toba Samosir pada 8 April 1962 itu.
Politisi yang mengikuti pendidikan SD di Porsea (1974), SMP Porsea (1977), SMA Laboratory School di Medan (1980), dan Fakultas Ekonomi HKBP Nommensen (1985) itu sempat bekerja PT Kertas Kraft di Aceh.
Sekitar dua tahun lamanya, Budiman Pardamean Nadapdap bekerja sebagai kontraktor bagian pemeliharaan jalan di Aceh.
Ketika bekerja di Aceh tersebut, Budiman Nadapdap berkenalan dengan Jokowi yang kini menjadi presiden terpilih karena bekerja dalam perusahaan yang sama.
"Saya sama-sama dengan Jokowi disana pada tahun 1985 sampai 1987. Setelah itu, saya bekerja di perusahaan keluarga," katanya.
Di organisasi, ia sempat menjadi aktivis dan pengurus Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) dengan menjadi Wakil Ketua tingkat Sumut pada 1996-2002.
"Saya juga atif di GMNI tetapi tidak sebagai pengurus," ujar Budiman. ***1***
