Pesta bagi masyarakat suku Batak di seputaran danau terbesar di Indonesia ini langsung menyedot annimo masyarakat untuk hadir dan melihat langsung kegiatan yang didukung penuh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif itu.
Nyanyian khas Batak juga terus menggema selama pembukaan kegiatan yang dahulunya bernama Pesta Danau Toba itu. Tak kurang 10.000 penonton hadir di tempat yang berhadapan langsung dengan Danau Toba ini. Bahkan, banyak pula yang menggunakan pakaian adat.
Selama pembukaan berlangsung aura sakral sangat terlihat, terutama saat ratusan penari Tortor Sawan menjalankan tugasnya. Begitu juga saat Sulang-Sulang Hariapan yang merupakan upacara penghargaan kepada orang tua.
"Tema festival tahun ini adalah 'Arga Do Bona Ni Pinasa' atau menghargai tanah leluhur. Dengan tema ini diharapkan bisa membawa kebudayaan Batak lebih mendunia," kata Ketua Umum FDT 2013, Mangindar Simbolon.
Setelah festival resmi dibuka beberapa kegiatan yang sudah terjadwal langsung berjalan mulai dari karnaval Sigale-gale yang merupakan salah satu ikon Batak. Pada karnaval ini ditampilkan empat patung kayu dari empat puak atau kategori suku Batak, yaitu Toba, Karo, Simalungun, dan Pakpak.
Sambutan masyarakatpun cukup meraih saat karnaval yang juga metampilkan beberapa jenis Sigale-gale modifikasi ini. Bahkan, banyak pula masyarakat yang terlibat, termasuk pemuda-pemuda asal Samosir.
"Sigale-gale terus kami kembangkan dengan berbagai modifikasi yang salah satu tujuannya untuk menarik banyak wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Namun, tidak meninggalkan keaslian budayanya," kata Mangindar Simbolon menambahkan.
Selain kanaval Sigale-gale, pada pesta masyarakat Batak itu juga digelar "World Drum Festival" yang diikuti oleh seniman dari berbagai daerah di Indonesia hingga melibatkan seniman dari mancanegara, seperti Afrika, Amerika Serikat, bahkan dari Jepang.
Khusus untuk seniman daerah selain Gendang Bolon yang merupakan alat musik khas Batak juga ditampilkan kesenian gendang lainnya, seperti Gendang Tasa dari Pariaman, Kuntulan dari Banyuwangi, Gendang Belek dari Lombok, maupun Balawan dan Bali.
"Gendang Batak merupakan satu dari tiga jenis 'drum chime' atau gendang pembawa melodi yang ada di dunia. Jadi, keberadaannya harus tetap dilestarikan," kata budayawan yang juga Direktur Festival Budaya Danau Toba Rizaldi Siagian.
Menurut dia, berdasarkan catatan ahli, "drum chime" hanya ada tiga di dunia yaitu di Uganda (Afrika Timur) dengan nama "entenga", sedangkan dua lagi berada di Asia Tenggara, yaitu di Myanmar dengan nama "hsaing waing" dan di Indonesia, persisnya di tengah-tengah masyarakat Batak yang hidup di tepian Danau Toba.
Selain karnaval Sigale-gale dan World Drum Festival juga digelar workshop tentang keanekaragaman ulos asli Batak oleh Antropolog asal Kanada, Sandra Niessen. Dalam workshop ini ditekannya adalah pengenalan kembali jenis-jenis ulos yang diharapkan menjadi contoh untuk terus dikembangkan.
"Jangan sampai ulos ini tinggal kenangan. Maka, jenis-jenis ulos kembali kenalkan kemasyarakat agar terus ditiru untuk dikembangkan," kata peniliti yang sudah lebih dari 30 tahun meneliti ulos asli Tanah Batak ini.
Menurut dia, ulos khas Batak merupakan salah satu mahakarya yang telah diakui oleh dunia. Keberadaan ulos bukan hanya sekadar kain, melainkan satu kesatuan dengan salah satu teknik dan pola pemikiran dalam sejarah dan cara hidup masyarakat Batak.
Ritual Mangalahat Horbo Bius atau bisa disebut sebagai tradisi mengorbankan kerbau sebelum menanam padi juga mewarnai gelaran Festival Danau Toba (FDT) 2013. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya melestarikan budaya asli yang sudah ratusan tahun yang lalu.
"Ini adalah tradisi mengorbankan kerbau dan pengorbanan ini dilakukan oleh sebuah komunitas sebelum mereka turun ke sawah dengan harapan hasil melimpah begitu juga dengan ternaknya maupun manusianya," kata antropolog dan konseptor kegiatan Mangalahat Horbo Bius Herman Togar Nainggolan.
Menurut dia, ritual Mangalahat Horbo Bius selain sebuah tradisi sebelum masa tanam merupakan salah satu kegiatan yang dimaknai untuk mengharmonisasi kehidupan manusia dengan lingkungan sekitar, terutama kawasan yang berada di sekililing Danau Toba.
Selain budaya, pada FDT 2013 juga digelar beberapa kejuaraan sebagai pendukung kegiatan mulai dari paralayang, paramotor, renang keliling Danau Toba, renang rakyat, hingga kejuaraan perahu naga khas Batak atau lebih dikenal dengan sebutan Solu Bolon.
"Festival ini mempunyai visi sport tourism. Jadi, keduanya akan berjalan bersamaan demi mengenalkan lagi Danau Toba dengan budaya-budayanya dan olahraga raga yang ada," kata Direktur Festival Olahraga Danau Toba Hinca Panjaitan.
Menurut dia, demi mengenalkan kembali Danau Toba ke tingkat internasional maka digelarlah renang keliling danau terbesar di Indonesia dengan jarak tempuh sekitar 120 kilometer. Renang ini dinilai yang pertama dan paling panjang di dunia.
"Tidak ada ditempat lain. Hanya di sini saja. Maka, kami mengundang pihak FINA (federasi renang dunia) untuk melihat langsung lokasi dan kegiatan yang ada. Selanjutnya diharapkan bisa masuk agenda internasional," kata pria kelahiran Asahan, Sumatra Utara, itu.
Keinginan Pemerintah Kabupaten Samosir dan kabupaten lainnya di kawasan Danau Toba mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, bahkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).
"Kami akan memberikan dukungan terhadap pelaksanaan Festival Danau Toba hingga lima tahun mendatang. Untuk itu, dukungan dari masyarakat juga dibutuhkan demi kesuksesan pelaksanaan hingga peningkatan ekonomi masyarakat," kata Wamenparekraf Sapta Nirwandar.
Demi menyukseskan Festival Danau Toba, pihak Kemenparekraf menganggarkan dana yang cukup besar, termasuk menggalang dana dari sponsor-sponsor. Hal ini dilakukan demi mengenalkan budaya dan pariwisata yang ada di Indonesia. Untuk selanjutnya FDT 2014 akan digelari di Kabupaten Toba Samosir.
Banyak Kendala
Meski FDT 2013 di Kabupaten Samosir dinilai sukses dalam pelaksanaan, masih banyak kendala yang dihadapi. Apalagi kendala yang ada sangat spesifik karena akan berpengaruh dengan tingkat kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
Salah satu kendala yang dihadapi adalah akses jalan menuju Danau Toba. Selama ini akses menuju danau terbesar di Indonesia itu kurang lebar sehingga sering memicu kemacetan yang berdampak lamanya waktu perjalanan, terutama dari arah Medan.
Saat ini, perjalanan dari Medan yang merupakan ibu kota provinsi dan lokasi bandar udara menuju kawasan Danau Toba memakan waktu lima sampai tujuh jam. Jarak tempuh ini jelas akan membuat lelah para wisatawan.
"Maka, dibutuhkan jalan tol dari Medan menuju Siantar. Jika dibangun tol akan memangkas waktu perjalanan hingga dua jam saja. Jelas ini sangat menarik bagi wisatawan," kata Wamenparekraf Sapta Nirmawandar.
Begitu juga dengan infrastruktur yang ada di kawasan Danau Toba mulai dari penginapan hingga jalan. Semuanya harus diperbaiki. Apalagi jalan yang ada, terutama di Pulau Samosir sangat sempit dan rusak.
Selain pembangunan jalan tol dan perbaikan infrastruktur lainnya, kata Sapta, diharapkan juga ada pembukaan akses bandara terutama untuk Bandara Silangit yang ada di Kabupaten Toba Samosir. Bandara ini diharapkan bisa menjadi pintu internasional menuju Danau Toba.
"Selain itu, sumber daya manusianya harus dipersiapkan dengan baik. Mereka harus diberi bekal agar mampu menerima wisatawan, termasuk dalam meningkatkan ekomoni kreatif serta mendukung program sport tourism yang ada," kata Sapta.
Rencana pembangunan jalan tol dari Medan ke Siantar sejauh kurang lebih 120 kilometer telah disinggung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa saat membuka Festival Danai Toba 2013. Bahkan, dana yang digunakan diperkirakan mencapai Rp50 triliun.
Sementara itu, pelaksanaan Festival Danau Toba 2013 yang akan berakhir Sabtu malam mendapatkan tanggapan yang berbeda dari masyarakat Samosir. Ada beberapa masyarakat yang kurang setuju dengan beberapa kegiatan yang telah dijadwalkan.
"Kami di sini (Samosir) butuh hiburan, bukan panggung-panggung besar yang kegunaannya tidak jelas," kata warga Desa Tuktuk, Ranto Silalahi.
Menurut dia, masyarakat Samosir juga membutuhkan hiburan yang menampilkan grup band lokal Batak. Selama ini grup-grup band asli Tanah Samosir menjadi salah satu warna selain budaya dan tempat pariwisata yang ada. (B016)
Pewarta: Bayu Kuncahyo:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.