Upaya pencegahan stunting yang dilakukan Pemerintah Kota Sibolga melalui Dinas Kesehatan dan Puskesmas-puskesmas membuahkan hasil yang signifikan.

Di mana jumlah penderita stunting di Kota Sibolga tahun 2019 sebayak 6,94 persen, dan di tahun ini menurun menjadi 2,29 persen atau 199 penderita, dari sasaran 6.672 jumlah balita di Kota Sibolga.

Hal itu disampaikan Kadis Kesehatan Kota Sibolga Firmansyah Hulu melalui Kabid Kesehatan Masyarakat, dr Ivonna Hasf Ika ketika dikonfirmasi ANTARA, Jumat (14/8/2020) di ruang kerjanya.

“Kami dari Dinas Kesehatan terus berupaya melakukan berbagai aksi kegiatan termasuk aksi lintas dari OPD agar jumlah penderita stunting di Kota Sibolga ini terus menurun. Bahkan dukungan dari bapak Wali Kota cukup maksimal termasuk dengan dikeluarkannya Peraturan Wali Kota (Perwal) tentang upaya gerakan pencegahan stunting,” terangnya.

Baca juga: KPU Sibolga sosialisasi tahapan lanjutan Pilkada kepada awak media

Disebutkan Ivonna, permasalahan stunting bisa terjadi sejak awal kehamilan sampai anak berusia dua tahun (periode 1.000 hari pertama kehidupan) yang merupakan periode kritis terjadinya gangguan pertumbuhan.

Dan Pemkot Sibolga melalui Dinas Kesehatan terus aktif melakukan edukasi kepada masyarakat dengan melakukan Posyandu, pemberian vitamin, pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil. Dan sesudah lahiran pemantuan pendampingan terus dilakukan kepada ibu dan anak untuk mengetahui pertumbuhan si anak dan kesehatan ibunya.

Baca juga: Wali Kota Sibolga bersama ASN sumbangkan 20 ekor hewan kurban

Disinggung tentang upaya pelayanan dan pemantauan di masa pendemi ini, dr Ivonna yang didampingi Khairunnisa Lubis selaku pengelola gizi di Dinas Kesehatan Sibolga menjelaskan, di bulan Februai-Maret 2020 layanan Posyandu dan dan operasi timbang masih berjalan, karena status Kota Sibolga pada bulan Maret masih zona hijau. Barulah di bulan April-Juni layanan dilakukan dengan turun ke rumah-rumah, khususnya bagi balita yang terdata di bawah garis merah berat badan dan status kesehatannya.
 
Kabid Kesehatan Masyarakat, dr Ivonna Hasf Ika didampingi Khairunnisa Lubis selaku pengelola gizi di Dinas Kesehatan Sibolga ketika dikonfirmasi ANTARA, Jumat (14/8/2020) di ruang kerjanya, terkait jumlah penderita stunting di Kota Sibolga dan penanganan yang sudah dilakukan. (ANTARA/Jason Gultom)


“Melalui petugas kesehatan di Puskemas-puskesmas turun jemput bola ke rumah masyarakat untuk memberikan pelayanan, khususnya bagi balita yang terdata di bawah garis merah berat badan dan status kesehatannya. Karena kita juga tidak mau, jangan sampai terjadi penularan virus dalam kegiatan Posyandu yang dilakukan secara berkumpul di Puskesmas-puskesmas. Jadi dengan petugas Puskesmas yang turun langsung ke rumah-rumah, dapat mengurangi atau memutus penularan COVID-19,” urainya.

Dan di masa tananan normal baru ini sambungnya lagi, sudah dilakukan kembali kegiatan Posyandu di Puskesmas-puskesmas dan layanan operasi timbang dengan SOP protokol kesehatan.   

“Kami dari Dinas Kesehatan cukup ketap mengawasi pelaksanaan Posyandu di masa tatanan normal baru ini. Dan kita ingatkan terus para petugas Puskesmas kita jangan sampai lengah menerapkan SOP protokol kesehatan COVID-19, demi keselamatan bersama baik itu keselatamatan petugas kita dan juga masyarakat,” tandasnya.

Untuk percepatan penurunan gagal tumbuh pada anak balita atau stunting di Kota Sibolga, kata Ivonna, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya, seperti melakukan konseling bagi calon pengantin (Catin) dengan bekerja sama dengan Kemeterian Keagamaan setempat. Melakukan intervensi bagi pasangan yang baru menikah, pemberian tablet penambah darah bagi ibu hamil, pemberian makanan tambahan (PMT), memberikan edukasi kepada masyarakat pentingnya kebersihan lingkungan, karena kebersihan dan faktor lingkungan juga turut mempengaruhi terjadinya stunting.

“Kami sebenarnya memiliki target agar Sibolga ini bebas dari stunting. Dan itu butuh dukungan dari semua pihak, termasuk kesadaran dari masyarakat itu sendiri. Karena selalu ada anggapan di tengah masyarakat, bahwa anak itu nanti akan tumbuh sendirinya, padahal tidak demikian. Untuk itulah kami mengimbau seluruh masyarakat agar turut berperan aktif mewujudkan target kita ini, karena daerah kita ini (Sibolga) bukan Lokus (lokasi fokus) stunting,” ungkapnya.

 

Pewarta: Jason Gultom

Editor : Juraidi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2020