Indonesia, dikenal negara yang memiliki ratusan kelompok  etnik atau lebih 1300-an suku bangsa dengan berbagai ragam corak adat dan budayanya, tanpa terkecuali Kabupaten Tapanuli Selatan.

Masyarakat Dusun Sugi Tonga, Desa Sugi, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan contohnya. Sebuah kearifan lokal (localwisdom) sejak satu abad lalu masih terpelihara hingga sekarang.

Apa itu?, minimal dalam 3 atau 5 tahun sekali warga masyarakat Sugi Tonga berpenduduk sekitar 396 jiwa atau kurang lebih 91 kepala keluarga melaksanakan ritual dinamakan "tolak bala".  

Baca juga: Kajari Tapsel ajak Kades laporkan LSM - wartawan pemeras

Baca juga: COVID-19 merebak, Bupati Tapsel ingatkan masyarakat tingkatkan dayatahan tubuh

Dalam ritual tersebut semua warga seisi kampung mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga orangtua sekalipun wajib berkeliling-keliling dusun mereka, dan tanpa setitik cahaya (penerangan) karena dilarang.

Seperti yang mereka (para warga) lakukan pada, Sabtu (14/3) malam, ritual "tolak bala" berkeliling kampung lebih kurang satu jam sambil tahlilan usai melaksanakan shalat Isha.

Dalam perjalanan warga berkeliling kampung sambil membacakan asma-asma Allah, tiga warga yang sengaja ditempatkan di 3 titik sudut jalan kampung tak henti mengumandangkan azan.

Kemudian satu hari setelahnya, Minggu (15/3) seluruh warga berkumpul di sebuah halaman melakukan makan bersama dengan biaya gotongroyong yakni sekitar Rp60 ribu per rumah tangga untuk biaya konsumsi makan termasuk untuk para tamu yang datang.

"Ritual "tolak bala" di kampung kelahiran almarhum Ibu kandung Bupati Tapanuli Selatan Syahrul M.Pasaribu ini sudah menjadi sebuah kearifan lokal dan turun temurun," tutur salah satu "hatobangon" Sugi Tonga, Rinuan Sahati ditemui ANTARA, Senin (16/3).
 
Rinuan Sahati (hatobangon) Dusun Sugi Tonga (kiri), dan perangkat Desa Sugi, Erwin Pakpahan (tengah) serta Hendrawan Hasibuan aktifis lingkungan (dua kanan) saat mengupas kearifan lokal ritual "tolak bala" di daerah tersebut. (ANTARA/Kodir)


Menurut dia, tujuan dari tahlilan tanpa penerangan (sebab semua lampu bahkan merokok juga dilarang) pada saat ritual berlangsung, agar warga lebih khusuk dalam memanjatkan doa-doa kepada Sang Maha Pencipta.

"Warga meyakini dengan pelaksanaan ritual seperti ini warga masyarakat Sugi Tonga akan mudah-mudahan terhindar dari segala bentuk penyakit, bencana, dan hasil pertanian mereka juga meningkat," kata Rinuan juga kader konservasi desa.

Tidak itu saja, kata Erwin Pakpahan, perangkat desa Sugi Tonga menimpali, sejak desa ini dibuka para pendahulu mereka tahun 2016, ritual "tolak bala" seperti ini juga sekaligus mendoakan agar perantau-perantau Sugi Tonga berhasil sukses di rantau orang.

"Tahun 2017 lalu acara ritual "tolak bala" seperti ini juga sudah kita laksanakan bersama dorongan para perantau. Namun, mengingat adanya angin kencang akhir-akhir dan virus corona ini sepakat ritual "tolak bala" kembali dilakukan, dengan harapan terhindar bencana," ungkapnya.

Salah satu alim ulama Sugi Tonga, Ibrahim Gultom, mengatakan kearifan lokal "tolak bala" seperti ini akan terus mereka jaga dan lestarikan hingga sampai kapanpun.

Sementara Hendrawan Hasibuan salah satu aktivis lingkungan yang hadir diacara itu mengaku sepanjang usianya lebih 30 tahun baru mengetahui adanya kearifan lokal "tolak bala" seperti ini di Tapanuli Selatan.

"Mudah-mudahan kearaifan lokal yang dimiliki Dusun Sugi Tonga ini dapat terus dipertahankan demi kekayaan khasanah adat dan budaya Tapanuli Selatan yang harus dilestarikan," pungkasnya.

Pewarta: Kodir Pohan

Editor : Akung


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2020