Simalungun, Sumut, 11/2 (antarasumut)-Tanaman kakao (coklat) menjadi primadona sebagian besar masyarakat Kabupaten Simalungun untuk menambah pendapatan keluarga.
Mereka memanfaatkan halaman di depan maupun di belakang atau samping rumah, menanam pohon berdaun rindang ini sebagai penyokong penghasilan ekonomi keluarga.
Sedikitnya ada dua pohon di halaman depan setiap rumah penduduk. Dan menghasilkan sekitar ratusan ribu setiap bulan. Bagi penduduk yang punya pohon lebih banyak, hasilnya bisa mencapai hampir jutaan.
Hampir merata di berbagai kecamatan di Simalungun, seperti Tapian Dolok, Dolok Batu Nanggar, Siantar, Gunung Maligas, Bangun hingga di seputaran kawasan Bandar, harga kakao basah kisaran Rp5000-6000 per Kg sedangkan yang kering kisaran Rp16.000 sampai 19.000 per Kg.
"Harga kakao tergantung agen, bervariasi yang penting tidak di bawah harga pasar," ujar Apriliandi warga Nagori Bahapal, Tapian Dolok, Senin siang, yang setiap minggu menjual sampai 30-an Kg.
Ayah dua anak yang sehariannya sebagai sekurity di perusahaan swasta ini, memiliki 20-an pohon Kakao yang bibitnya berasal dari bantuan Pemkab Simalungun.
Sedangkan Suprianto, warga Nagori Bandar Betsi II Kecamatan Bandar Huluan yang dihubungi via hp menyebutkan, saat ini harga kakao di kisaran Rp18.000 per Kg untuk kering. Namun untuk kawasan ini, masyarakat lebih memilih menjual kakao basah daripada harus dikeringkan.
"Sebagian besar masyarakat di sini punya kebun kakao dengan area yang cukup luas. Masyarakat yang penting kakao terjual, dan menghasilkan uang saat di panen setiap hari. Per kilogram Rp5.000," papar petugas kelurahan ini.
Kadis Perkebunan Simalungun, Ir Amran Sinaga mengakui harga kakao tidak pernah jatuh, dan cara penanganannya mudah, hanya perlu perhatian setiap hari minimal dua jam.
"Kakao yang menjadi unggulan di Simalungun selain kopi, karet dan sawit, termasuk tanaman manja. Hanya butuh pemangkasan dari daun dan cabang yang berlebih supaya terhindar dari hama penyakit," ujar Amran.
Dan pihaknya setiap tahun menyediakan bibit kepada masyarakat dengan harga terjangkau dan bersertifikat, termasuk pelatihan menanam dan mengelola tanaman ini.
Kabid Produksi, Banua Pane menambahkan, ada sekitar 5.400 ha luas tanaman kakao yang tersebar khususnya di Simalungun Bawah. Hal ini tidak terlepas dari topografi ideal bagi tanaman ini, 0-500 meter di atas permukaan laut.
"Untuk daerah pegunungan tidak begitu ideal, walau sebagian masyarakat telah menanam di lahan yang berada di 700 meter permukaan laut dan hasilnya masih bagus," papar Banua Pane.
Sedangkan untuk produksi mencapai 1,1 ton per ha per tahun dan diyakini akan terus meningkat seiring bantuan bibit dari Pemkab Simalungun setiap tahunnya.
"Untuk tahun 2013 ada 10.000 bibit yang akan kita bagi menjelang akhir tahun dengan harga Rp750 per bibit," sebut Banua sembari mengatakan harga bibit di pasaran mencapai Rp6.000-Rp7.000. (Waristo)
