Medan (ANTARA) - Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menegaskan tentang pentingnya mitigasi ancaman megathrust sebagai langkah antisipasi melindungi keselamatan masyarakat, serta menjaga stabilitas daerah.
"Bencana megathrust tidak hanya berdampak pada keselamatan jiwa, tapi juga mengganggu ekonomi, pelayanan publik, stabilitas sosial hingga keamanan," ujar Bobby saat memberikan pembekalan peserta Kuliah Kerja Dalam Negeri (KKDN) Perwira Siswa (Pasis) Pendidikan Reguler (Dikreg) LV Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI tahun ajaran 2026 di Kantor Gubernur Sumut, Selasa.
Gubernur menjelaskan, zona megathrust merupakan kawasan pertemuan antara dua lempeng tektonik, yaitu lempeng samudera dan lempeng benua.
Pertemuan kedua lempeng tersebut menyebabkan proses subduksi yang berpotensi memicu gempa bumi berkekuatan besar.
Megathrust karakteristik berupa magnitudo sangat besar di zona subduksi, memiliki patahan dangkal dan luas, serta berpotensi memicu tsunami besar. "Gempa megathrust pernah terjadi di Aceh tahun 2004, yang memicu terjadinya tsunami di Samudera Hindia," kata Bobby.
Menurut dia, salah satu wilayah memiliki potensi ancaman megathrust adalah kawasan Mentawai di Sumatera Barat, dan pesisir pantai barat Sumatera.
Oleh karena itu, ia mengingatkan agar berbagai peringatan dan informasi atas potensi bencana tidak diabaikan oleh masyarakat maupun pemangku kepentingan.
Untuk memitigasi ancaman itu, Pemprov Sumut terus menerapkan pendekatan struktural, non struktural, sosial budaya, serta penguatan harmoni lintas iman di berbagai lokasi.
"Mitigasi ini juga mengedepankan kearifan lokal yang berbasis pada nilai-nilai kebhinekaan nusantara," jelas Bobby.
Selain itu, Pemprov Sumut juga terus melakukan berbagai upaya antara lain penguatan kebijakan dan tata kelola, serta pembangunan infrastruktur yang aman terhadap kebencanaan.
Kemudian, peningkatan kesiapsiagaan dan kapasitas masyarakat, penguatan kolaborasi dan kemitraan, serta pemanfaatan inovasi dan teknologi.
Bobby juga mencontohkan, penanganan bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025 yang dampak bencana tersebut dapat ditangani berkat kolaborasi seluruh pihak terkait.
"Adapun jumlah masyarakat terdampak mencapai 1.803.715 jiwa, 11.209 orang mengungsi, 375 orang meninggal dunia, lima orang mengalami luka-luka, dan 41 orang dinyatakan hilang," katanya.
Sebagai bentuk komitmen percepatan pemulihan pascabencana, Pemprov Sumut telah mengalokasikan dukungan fiskal melalui dana transfer ke daerah.
"Ini untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pada 2026-2028 sebesar Rp23,33 triliun. Selain itu, terdapat tambahan dana transfer ke daerah pada 2026 sebesar Rp1,134 triliun," ujar Bobby.
Wakil Komandan Sesko TNI Mayjen TNI Teguh Puji Raharjo mengatakan, kuliah kerja dalam negeri perwira siswa pendidikan reguler LV Sekolah Staf dan Komando TNI tahun ajaran 2026 diikuti oleh 60 peserta.
Kegiatan itu membekali calon pemimpin TNI mengenai wawasan strategis, pengalaman empiris, serta kemampuan menganalisis penataan wilayah pertahanan secara langsung di daerah.
"Juga memitigasi ancaman dan bencana. Untuk meningkatkan kemampuan pasis mendeteksi, menganalisis, serta melakukan mitigasi terhadap berbagai potensi ancaman," jelas Teguh.
Pewarta: Muhammad SaidEditor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.