Sergai (ANTARA) - Aliansi Nelayan Sumatera Utara (ANSU), bersama Federasi Serikat Nelayan Nusantara (FSNN), serta Koalisi Rakyat Untuk Keadilan Perikanan (KIARA)/IJF, menyerahkan bahan pangan kepada belasan keluarga nelayan korban konflik di laut, bencana cuaca ekstrem, hilang dan luka-luka, pada peringatan Hari Nelayan Nusantara di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), yang digelar di Aula Pantai Mangrove Sei Nipah Desa Sei Nagalawan Kecamatan Perbaungan, Senin (6/4/2026).
Peringatan hari Nelayan Nusantara di Sergai ini juga dirangkai dengan tabur bunga untuk mengenang pejuang nelayan tradisional Sergai, di sekitar perairan Desa Naga Lawan Kecamatan Perbaungan.
Peringatan hari Nelayan tahun 2026 di Kabupaten Sergai ini turut dihadiri Ketua ANSU Sergai, Irwan Syahril, Ketua Umum FSNN, Sutrisno, perwakilan Pengurus KIARA/IJF, Supriadi, Ketua Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) Sergai Jumiati, perwakilan Dinas Ketapang dan Perikanan Sergai Daniel Tarigan, Direktur WALHI Sumut Rianda Purba.
Selain itu, KBO Sat Polairud Polres Sergai Ipda Maslani, Perwakilan Regal Spring Indonesia (RSI) PT. Aquafarm Nusantara, Syahrial, unsur Forkopimcam Perbaungan serta puluhan perwakilan nelayan tradisional Kecamatan Perbaungan, Pantai Cermin, Teluk Mengkudu dan Kecamatan Tanjung Beringin.
Ketua Umum FSNN, Sutrisno diwakili Ketua ANSU, Irwan Syahril menyampaikan, tema Peringatan Hari Nelayan Nusantara tahun 2026 yang jatuh pada 6 April ini mengambil tema mengenang para pahlawan: Pejuang Tangguh, Pejuang Bangkit, Pejuang Protein yang telah gugur atau korban di laut, baik akibat konflik nelayan di laut maupun korban bencana alam di laut seperti badai dan ombak besar.
"Momen hari Nelayan Nusantara ini untuk mengenang dan mengingatkan pada diri masing-masing bahwa menjadi nelayan sekarang, harus siap untuk menghadapi tantangan ketika sedang berhadapan dengan alam laut", ujar Irwan.
Terkadang katanya, banyak yang lupa atas sejarah yang disampaikan oleh leluhur nenek moyang, bahwa seorang pelaut selain mencari makan juga bertujuan untuk menjaga dan merawat laut, karena laut alam yang diciptakan Allah SWT sebagai salah satu sumber rezeki dan penghidupan bagi nelayan tradisional.
Olehkarena itu, lanjut Irwan, guna melanjutkan cita-cita para pahlawan lautan, pejuang nelayan, ia mengajak seluruh nelayan mari bersatu padu dan bersama menjaga laut yang merupakan warisan leluhur agar tetap lestari hingga ke anak cucu seluruh bangsa Indonesia.
Sementara itu, KBO Sat Polairud Polres Sergai IPDA Maslani menyampaikan, nelayan merupakan mitra strategis Polairud. Olehkarena itu ia berpesan agar para nelayan menjaga keselamatan saat melaut dengan melengkapi peralatan keselamatan.
"Kita berharap para nelayan kita dapat menjaga ekosistem laut dengan alat tangkap ramah lingkungan dan jika ada bentuk pelanggaran pidana perikanan dan pidana umum, segera call center 110 bebas pulsa bisa dihubungi langsung oleh para nelayan", ujarnya.
Senada disampaikan perwakilan Dinas Ketapang dan Perikanan Daniel Tarigan. Ia menghimbau nelayan tradisional untuk terus menjaga ekosistem biota laut dengan alat tangkap ramah lingkungan.
“Mengingat resiko menjadi nelayan cukup besar dan beresiko terhadap ombak besar dan badai, saya ajak nelayan untuk mendaftarkan diri ke BPJS Ketenagakerjaan sebagai bentuk perlindungan jiwa,” pungkas Daniel Tarigan.
Dalam kesempatan tersebut perwakilan nelayan tradisional Sergai bersama Organisasi nelayan menyampaikan pernyataan sikap menolak penggunaan alat tangkap yang merusak biota laut, trawl dan sejenisnya, meminta penegak hukum melakukan pengawasan secara maksimal terhadap penggunaan alat tangkap merusak lingkungan, trawl dan sejenisnya,
Serta mendorong Pemerintah Sergai untuk lebih perhatian terhadap persoalan-persoalan nelayan tradisional secara keseluruhan.
