Medan (ANTARA) - Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara memperkuat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut pasca-bencana alam.

“Penguatan ekonomi daerah perlu dilakukan melalui pendekatan terobosan, harmonisasi, dan realisasi kebijakan agar mampu menghadapi tantangan ekonomi,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara Rudy Brando Hutabarat di Medan, Jumat.

Rudy mengatakan berbagai langkah dilakukan, di antaranya memastikan kecukupan pasokan pangan dan kelancaran distribusi barang, sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat.

Selain itu, upaya lain yang dilakukan yakni revitalisasi pasar tradisional serta penguatan peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar tetap produktif di wilayah terdampak bencana.

"Sinergi kebijakan antarpemangku kepentingan terus diperkuat untuk mendorong pengembangan sektor pertanian melalui hilirisasi serta penguatan ketahanan pangan daerah,” ujarnya.

Ia menambahkan upaya tersebut juga sejalan dengan dukungan terhadap berbagai program strategis nasional yang menjadi prioritas pemerintah.

BI menyatakan perekonomian Sumut diprakirakan kembali pulih pada 2026 dan semakin menguat pada 2027 dengan pertumbuhan sekitar 5,1 persen.

"Didukung membaik aktivitas ekonomi, stabilitas harga, serta penguatan sinergi kebijakan antarBank Indonesia dan pemerintah daerah,” kata Rudy.

Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sumatera Utara Edy Purwanto mengatakan pemerintah melakukan penyesuaian kebijakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi daerah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

“Penyesuaian tersebut meliputi perpanjangan tenor kredit, penambahan plafon pembiayaan, pemberian masa tenggang pembayaran, serta usulan penghapusan kewajiban bagi debitur KUR yang usahanya tidak dapat dilanjutkan akibat dampak bencana,” ujarnya.



Pewarta: M. Sahbainy Nasution
Editor : Akung

COPYRIGHT © ANTARA 2026