"Penurunan devisa itu makin membesar karena nilai ekspor pada bulan November juga makin turun"
Medan,  (Antara) - Devisa dari sawit atau lemak dan minyak hewan/nabati Sumatera Utara hingga November 2015 masih melemah atau turun sebesar 20,17 persen dibandingkan periode sama pada tahun 2014.

"Data menunjukkan, nilai ekspor golongan produk itu tinggal 3,022 miliar dolar AS dari periode sama 2014 yang masih bisa 3,785 miliar dolar AS," kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumut Parlindungan Purba di Medan, Kamis.

Penurunan devisa itu, kata dia, makin membesar karena nilai ekspor pada bulan November juga makin turun.

Ia menyebutkan dari 298,077 juta dolar AS pada bulan Oktober, tinggal menjadi 265,618 juta dolar AS pada bulan November.

Melemahnya nilai devisa itu, menurut Parlindungan, masih tetap dipicu permintaan dan harga ekspor yang turun.

"Ada kekhawatiran nilai devisa dari golongan barang itu terus melemah hingga 2016 karena DMSI (Dewan Minyak Sawit Indonesia) meramalkan harga masih belum membaik," katanya.

Ketua Umum DMSI Derom Bangun mengakui memang ada prediksi harga jual tetap melemah pada tahun 2016.

Harga CPO diduga di bawah 700 dolar AS per ton dari sebelumnya yang diperkirakan di atas angka itu dengan harapan harga minyak bumi akan "rebound".

Harga yang melemah itu, kata dia, dampak harga minyak bumi yang cenderung berada di bawah 35 dolar AS per barel.

"Harga CPO diprediksi tidak akan beranjak naik di atas 650 dolar AS per ton (CIF Rotpterdam)," kata Derom.

Pewarta: Evalisa Siregar
Editor : Ribut Priadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026