Masyarakat harus waspada. Sebab hal ini sudah pantas diselidiki, masak sih minyak tanah murni sampai menyambar dan membakar tubuhTarutung, 9/10 (Antarasumut) - Ketua TP PKK Taput Satika Nikson Nababan Boru Simamora mengimbau masyarakat Tapanuli Utara untuk waspada terhadap minyak tanah oplosan dalam menyikapi peristiwa luka bakar yang menimpa empat anak, termasuk satu korban tewas setelah bersentuhan dengan penggunaan minyak tanah.
“Masyarakat harus waspada. Sebab hal ini sudah pantas diselidiki, masak sih minyak tanah murni sampai menyambar dan membakar tubuh,†ujar Satika saat membesuk korban luka bakar Sony Boru Sinaga (17), warga Sidikalang Dairi yang saat kejadian sedang berada di rumah abangnya David Simatupang di Dusun Nahornop Marsada, Kecamatan Pahae Jae Tapanuli Utara, Jumat.
Menurutnya, peristiwa yang menimpa korban merupakan kejadian ganjil dan mustahil jika bahan bakar minyak tanah yang biasanya digunakan warga secara tiba-tiba menyambar dan mengakibatkan luka bakar serius.
Sony yang menderita luka bakar 37 persen dirawat di ruang RR, Rumah Sakit Umum Tarutung itu, saat dibesuk dalam kondisi terkulai lemas di atas pembaringan.
“Kita tidak ingin terlalu dini mengambil kesimpulan atas bahan bakar rumah tangga yang menyebabkan luka bakar itu. Namun, hal itu perlu diselidiki dan waspadai minah oplosan,†katanya.
Dari keterangan yang disampaikan kakak korban, Tina Sinaga (18), adiknya saat kejadian sedang menyalakan api perapian untuk memasak air minum di dapur. Bantuan siraman minyak tanah yang baru dibelinya dari warung di dekat rumah biasanya sangat membantu untuk menyalakan kayu perapian.
“Namun, tiba-tiba api menyebar dan menyambar jerigen tempat minyak tanah. Padahal minyak tanah yang dituang hanya sekedar untuk membakar kayu perapian. Semburan api seperti ledakan dengan seketika menyerang adikku,†urainya soal peristiwa Rabu (7/10) sekitar pukul 17.00 WIB.
Walau hanya sebentar dan padam dengan sendirinya, namun setengah badan Sony ke bawah sudah melepuh. Demikian dengan kedua lengannya yang terlihat menghitam akibat terbakar.
“Adik saya meraung kesakitan dan langsung kami bawa ke ruang tengah. Atas saran sejumlah warga, lumuran bubuk kopi yang katanya ampuh sebagai obat luka bakar ternyata tidak seampuh yang dikatakan. Luka adik saya tidak kunjung membaik, hingga langsung dilarikan ke Rumah Sakit, sekitar pukul 19.30, semalam,†jelasnya.
Dokter Spesialis Bedah RSUD Tarutung, Benny Sinaga yang merawat Sony mengungkapkan bahwa luka bakar yang dialami korban masih dalam tingkat IIA atau dengan persentase luka bakar sejumlah 37 persen.
“Setengah badan kebawah yang terbakar masih dapat disembuhkan. Namun, lengan kiri yang mengalami luka bakar serius nantinya akan membutuhkan tambalan daging untuk menutupi lobang akibat luka,†terangnya.
Sebelumnya, luka bakar yang dialami Sony juga dialami Juliaman Simanjuntak, bocah yang masih berusia enam tahun yang harus menderita setelah tubuhnya mengalami luka bakar serius setelah menghidupkan lampu teplok sesaat setelah aliran listrik padam di rumahnya di Dusun Lobu Jau, Onanrunggu III, Kecamatan Sipahutar pada Rabu (30/9).
Demikian halnya dengan Geren Posan Simanjuntak (2) dengan luka bakar 20 persen serta abangnya Wilman Simanjuntak, bocah 7 tahun penderita luka bakar 80% di rumahnya di Desa Sabungan Huta IV, Dusun Sigala-gala Kecamatan Sipahutar, Selasa (12/9). Wilman akhirnya meninggal dunia setelah mendapat perawatan medis di RSU Adam Malik Medan.
Pewarta: Rinto Aritonang: Rinto Aritonang
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.