"Sebenarnya, bencana masih bisa dicegah apabila kita memelihara dan mengenali penomena alam yang ada di lingkugan sekitar," ujarnya, ketika membuka pelatihan masyarakat peduli tanggap bencana, di Tanjung Balai. Rabu.
Menurutnya, berbagai bencana yang terjadi saat ini terkadang sulit dikategorikan sebagai bencana alam murni, kecuali gempa bumi, gunung meletus dan tsunami.
Tetapi, terjadinya banjir bandang, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, atas pengaruh dan campur tangan manusia.
Ia melanjutkan, bencana lingkungan sesuatu hal dapat diperkirakan walaupun dalam ketepatan hitungan hari sulit dilakukan, tetapi terjadinya bencana jelas dapat dibayangkan.
Geografis Kota Tanjung Balai yang berada di hilir Danau Toba, sangat berpotensi mengalami banjir kiriman. Karena itu, masyarakat diharapkan tanggap dan sigap jika curah hujan tinggi.
"Sebagai masyarakat kita mesti selalu waspada dan ikut terlibat melakukan antisipasi terjadinya bencana, seperti banjir kiriman. Antisipasi bisa dengan cara membersihakan tali air, drainase dan bibir sungai agar air lancar mengalir," katanya.
Sebelumnya, Kepala BPBD Pemkot Tanjung Balai, Mahdin Siregar, menjelaskan, sebanyak 250 warga daerah itu dilibatkan dalam kelompok masyarakat peduli dan tanggap bencana.
Pelatihan digelar dua hari (22-23/10), bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat agar mengenali tanda-tanda terjadinya bencana alam maupun non alam.
Materi pelatihan akan disampaikan lima orang narasumber dari BPBD dan BMKG Provinsi Sumtera Utara, Kodim 0208/Asahan serta Brimob Den-3 Kota Tanjung Balai.
"Kita berharap kegiatan ini dapat memberikan votivasi dan pemahaman agar masyarakat ikut terlibat dalam pencegahan dan penanggulan bencana," tambahnya. (Yan)
Pewarta: Yan Aswika:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.