"Dengan mode aerotropolis justru mempertahankan kawasan pertanian," kata Wakil Gubernur Sumut, H.Tengku Erry Nuradi di Medan, Minggu.
Mode aerotropolis akan menata sedemikian rupa kawasan sekitar Bandar Udara (Bandara) Kualanamu agar teratur dan mempertahankan lahan pertanian.
"Jadi jangan berfikir aerotropolis justru merusak kawasan pertanian.Makanya Pemprov Sumut, pemerintah kota/kabupaten dan Angkasa Pura II terus membicarakan serius terkait aerotropolis itu khususnya bagaimana agar tidak mengganggu kawasan pertanian,"katanya.
Sumut, kata Erry, sangat serius mempertahankan bahkan meningkatkan areal dan produksi pangan menyusul target Pemprov mencapai kedaulatan pangan.
Direktur utama AP II, Tri Sunoko, sebelumnya menyebutkan, mode aerotropolis Kualanamu akan sebagai percontohan dan sekaligus untuk meningkatkan daya saing provinsi bahkan Indonesia.
Menurut dia, aerotropolis merupakan konsep dimana suatu bandara akan menjadi pusat kegiatan yang dikelilingi oleh berbagai fasilitas pendukung seperti perkantoran, area komersial, area hiburan, layanan kesehatan berkelas, hingga dunia akademis dan industri yang tertata baik.
Pada Seminar Membangun Daya Saing Sumut Melalui Pengembangan Aerotropolis Kualanamu yang digelar Pemprov Sumut bersama Angkasa Pura II dan dihadiri berbagai kalangan di Medan, awal pekan, dia menyebutkan, konsep itu dicetuskan setelah melihat kawasan Bandara Cengkareng yang semrawut.
Mengingat konsep aerotropolis itu menyangkut semua terkait, maka memang harus mendapat dukungan penuh dari semua termasuk adanya payung hukum seperti menyangkut RTRW kawasan tersebut yang antara lain berisikan perlindungan areal pertanian.
Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Deliserdang, Irman DJ Oemar
mengakui, pihaknya. akan mempertahankan sekitar 5.000 hektare lahan pertanian di sekitar Kualanamu itu.
"Kalau naik kereta api Railink dari Medan-Kualanamu-Medan terlihat hamparan persawahan di kiri dan kanan, maka kawasan itu akan dipertahankan,"katanya.
Termasuk kawasan pertanian lain yang di sekitar Kualanamu.
"Memang sulit apalagi kalau pemiliknya memang mau menjual.Untuk itu memang harus ada peraturan tentang perlindungan areal pertanian di kawasan aerotropolis,"katanya.
Kepala Dinas Pertanian Sumut, M.Room S, mengakui, penurunan luas areal pertanian padi di Sumut masih terus berlangsung atau rata-rata empat persen per tahun dan itu dikhawatirkan mengancam ketahanan pangan daerah.
Pada 2012 misalnya pengurangan areal lahan pertanian baik sawah irigasi dan non irigasi mencapai 4,16 persen atau tinggal 468.827 hektare dari 2011 yang masih seluas 484.995 hektare.
Menurut dia, pengurangan luas areal terjadi hampir di semua kota/kabupaten dengan persentase dan termasuk peruntukan yang berbeda-beda pula.
Bukan hanya untuk areal perkebunan dan pemukiman masyarakat, tetapi juga untuk kawasan perumahan skala menengah hingga mewah dan pusat pertokoan.
Persentase konversi lahan terbesar terjadi antara lain di Kabupaten Deliserdang, Serdangbedagai, Padanglawas, Labuhanbatu Utara, Labuhanbatu, Asahan dan bahkan Nias.***2***
(T.E016/B/Z. Abdullah/Z. Abdullah)
Pewarta: Evalisa Siregar:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.