Medan, 13/2 (Antara) - Kepolisian Daerah Sumatera Utara melakukan simulasikan pengamanan tahapan Pemilihan Umum, mulai dari proses kampanye, pemungutan dan penghitungan suara, hingga penanganan unjuk rasa.
Simulasi yang dilaksanakan di Lapangan Benteng dan Gedung DPRD Sumut di Medan, Kamis, itu melibatkan sekitar 2.000 personel dari seluruh satuan kerja Polda Sumut.
Simulasi itu diawali dengan adegan penjemputan capres dan cawapres menuju tempat kampanye oleh personel Satuan Patroli Jalan Raya dan direktorat Pengamanan Objek Vital Polda Sumut.
Namun di tengah perjalanan, ada kejadian kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan kemacetan, sehingga capres dan cawapres harus menempuh rute lain.
Dengan pengawalan personel kepolisian, capres dan cawapres tiba di lokasi kampanye dan disambut ribuan pendukungnya disambut yel-yel.
Namun di tengah kerumunan massa, ada penyusup yang memancing keributan dan kerusuhan dengan melemparkan botol air mineral ke arah capres dan cawapres yang sedang berkampanye.
Tim penyelamat dari Satuan Brimob Polda sumut berupaya menyelamatkan capres dan cawapres, sedangkan tim lain berupaya mengendalikan situasi.
Simulasi kedua dalam pemungutan suara yang diawali dengan adegan petugas TPS sudah berada di lokasi dan warga sedang menggunakan hak pilih.
Setelah selesai pencoblosan surat suara, petugas TPS dan anggotanya disaksikan para saksi dan pengawas menyaksikan proses penghitungan suara.
Namun di tengah penghitungan suara, ada keributan kecil karena ada saksi yang menganggap terjadinya kecurangan yang dilakukan penyelenggara pemilu.
Mengetahui keributan itu, petugas segera turun ke lapangan dibantu petugas TPS untuk menenangkan situasi dan membawa kotak suara ke kantor kelurahan setempat.
Tapi di tengah perjalanan, ada kelompok yang berupaya mengambil paksa kotak suara. Disebabkan petugas pengamanan tidak berimbang, kotak berhasil diambil kelomok tersebut
Mendapatkan laporan tentang perampasan kotak suara tersebut, petugas Direktorat Sabhara dan unit patroli langsung melakukan pengejaran terhadap kelompok perusuh itu.
Setelah menemukan kelompok itu, petugas melakukan upaya hukum untuk mengamankan kotak suara dan menggiring pelaku ke kantor kepolisian.
Sedangkan simulasi ketiga adalah pengamanan unjuk rasa yang dilakukan simpatisan parpol atau pendukung pasangan capres dan cawapres tertentu yang merasa tidak puas terhadap hasil penghitungan suara dengan mendatangi kantor KPU dan DPRD Sumut untuk menyampaikan aspirasi.
Di tengah menyampaikan aspirasi, ada massa yang terpancing emosinya sehingga melakukan pelempatan terhadap anggota DPRD Sumut yang berupaya untuk berdialog dengan pengunjuk rasa.
Anggota DPRD Sumut itu diselamatkan tim dari Satuan Brimob. Namun, massa tetap berada di gedung dewan sehingga petugas memasang "security barier" atau kawat berduri di depan kantor lembaga perwakilan rakyat tersebut.
Diilustrasikan, massa semakin tidak terkendali dan semakin banyak, sehingga petugas menurunkan tim K-9 atau polisi satwa untuk memecahkan konsentrasi massa.
Disebabkan upaya itu gagal, dikerahkan tim pengendali massa Polda Sumut didukung mobil "public address" dan "water canon". Dengan mobil "public address", petugas mengimbau masyarakat untuk tidak bertindak anarkis.
Karena massa terus bertambah dan potensi anarkis semakin meningkat, dimintakan bantuan dari tim pengendali huru-hara (PHH) Satuan Brimob Polda Sumut untuk melakukan formasi lintas ganti.
Disebabkan imbauan untuk tidak melakukan tindakan anarkis tidak dihiraukan pengunjuk rasa, petugas terpaksa mengambil tindakan tegas untuk membubarkan massa.
Setelah massa terkendali, Kapolresta Medan Kombes Pol Nico Afinta melaporkan situasi ke Polda Sumut.
Kapolda Sumut Irjen Pol Syarief Gunawan mengatakan, latihan dan simulasi tersebut dimaksudkan agar pihaknya memiliki kesiapan dalam seluruh pengamanan tahapan pemilu.
"Supaya kita bisa (memiliki kesiapan) seperti yang tadi disimulasikan. Nanti dibuat juga di kabupaten/kota," ujarnya. (I023)
Pewarta: Irwan:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.